Showing posts with label wek62. Show all posts
Showing posts with label wek62. Show all posts

20 August 2010

IHya Ramadhan Bersama Pemimpin HIKMAH

Program Ihya Ramadhan bersama Pemimpin HIKMAH telah diadakan pada 20/08/2010 @jam 6.00 petang di Kampung Darul Falah, Sungei Gamuan, Bintangor. Tetamu kehormat yg turut hadir dalam majlis tersebut adalah Y.Bhg. Tan Sri Datuk Amar Hj. Aziz bin Dato' Hj. Husain. (Yang DiPertua HIKMAH) serta ronbongan dari ibu pejabat HIKMAH Kuching. Majlis telah di mulai seawal jam 6.00 petang dengan kehadiran penduduk kampung tersebut dan beberapa tetamu lain seperti Pengerusi Hikmah Sibu, Sarikei ,Meradong dan pihak JAKIM Sibu. Majlis dimulai dengan berbuka puasa dan solat magrib berjemaah. Tazkirah telah disampaikan oleh Dr. Awang Ismail, Pengerusi HIKMAH Cawangan Sarikei sebelum solat isyak dan sunat tarawih. Selepas solat sunat tarawih ucapan amanat dari Yang DiPertua HIKMAH dan seterusnya majlis penyampaian sumbangan kepada penduduk Kampung Darul Falah. Alhamdulillah majlis berjalan dengan jayanya dan berakhir pada jam 10.00 malam.

Gambar sekitar majlis Ihya Ramadhan Bersama Pemimpin HIKMAH
Penduduk Kampung yg hadir
YDP HIKMAH
Mendengar tazkirah Dr. Awg Ismail
Dr Awang Ismail sedang memberi tazkirah
Memberi sumbangan kpd penduduk
Antara penduduk dan tetamu yg hadir
Berbuka puasa bersama YDP HIKMAH
YDP HIKMAH menyampaikan sumbangan

17 August 2010

Puasa Tidak Sekadar Menahan Makan dan Minum

Puasa merupakan ibadah yang sangat dicintai Allah ta'ala. Hal ini sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ. قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِلاَّ الصَّوْمَ، فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي

“Setiap amalan anak Adam akan dilipatgandakan pahalanya, satu kebaikan akan berlipat menjadi 10 kebaikan sampai 700 kali lipat. Allah ta’ala berfirman: ‘Kecuali puasa, maka Aku yang akan membalas orang yang menjalankannya karena dia telah meninggalkan keinginan-keinginan hawa nafsunya dan makannya karena Aku’.” (Shahih, HR. Muslim)

Hadits di atas dengan jelas menunjukkan betapa tingginya nilai puasa. Allah ta’ala akan melipatgandakan pahalanya bukan sekedar 10 atau 700 kali lipat namun akan dibalas sesuai dengan keinginan-Nya .Padahal kita tahu bahwa Allah ta’ala Maha Pemurah, maka Dia tentu akan membalas pahala orang yang berpuasa dengan berlipat ganda.

Hikmah dari semua ini adalah sebagaimana tersebut dalam hadits, bahwa orang yang berpuasa telah meninggalkan keinginan hawa nafsu dan makannya karena Allah Ta'ala. Tidak nampak dalam zahirnya dia sedang melakukan suatu amalan ibadah, padahal sesungguhnya dia sedang menjalankan ibadah yang sangat dicintai Allah ta’ala dengan menahan lapar dan dahaga. Sementara di sekitarnya ada makanan dan minuman.

Di samping itu dia juga menjaga hawa nafsunya dari hal-hal yang boleh membatalkan puasa. Semua itu dilakukan karena mengharapkan keridhaan Allah Ta’ala dengan menyakini bahwa Allah Ta’ala mengetahui segala gerak-geriknya.

Di antara hikmahnya juga yaitu karena orang yang berpuasa sedang mengumpulkan seluruh jenis kesabaran di dalam amalannya. Yaitu sabar dalam taat kepada Allah Ta'ala, dalam menjauhi larangan, dan di dalam menghadapi ketentuan taqdir-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُوْنَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya akan dipenuhi bagi orang-orang yang sabar pahala mereka berlipat ganda tanpa perhitungan.” (Az-Zumar: 10)

Perlu menjadi catatan penting bahwa puasa bukanlah sekedar menahan diri dari makan, minum dan hal-hal lainnya yang membatalkan puasa. Orang yang berpuasa harus pula menjaga lisan dan anggota badan lainnya dari segala yang diharamkan oleh Allah Ta’ala namun bukan berarti ketika tidak sedang berpuasa boleh melakukan hal-hal yang diharamkan tersebut.

Maksudnya adalah bahwa perbuatan maksiat itu lebih berat ancamannya bila dilakukan pada bulan yang mulia ini, dan ketika menjalankan ibadah yang sangat dicintai Allah Ta'ala. Boleh jadi seseorang yang berpuasa itu tidak mendapatkan faedah apa-apa dari puasanya kecuali hanya merasakan haus dan lapar. Na’udzubillahi min dzalik.

Untuk itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang yang berpuasa agar mendapatkan balasan dan keutamaan-keutamaan yang telah Allah ta’ala janjikan. Diantaranya:

1. Setiap muslim harus menjalankan ibadah puasanya di atas iman kepada Allah Ta’ala dalam rangka mengharapkan ridha-Nya, bukan karena ingin dipuji atau sekedar ikut-ikutan keluarganya atau masyarakatnya yang sedang berpuasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah Ta'ala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun ‘alaih)

2. Menjaga anggota badannya dari hal-hal yang diharamkan Allah, seperti menjaga lisannya dari dusta, ghibah, dan lain-lain. Begitu pula menjaga matanya dari melihat orang lain yang bukan mahramnya baik secara langsung atau tidak langsung seperti melalui gambar-gambar atau filem-filem dan sebagainya. Juga menjaga telinga, tangan, kaki dan anggota badan lainnya dari bermaksiat kepada Allah Ta'ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ للهِ حَاجَةٌ فِيْ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, maka Allah Ta’ala tidak peduli dia meninggalkan makan dan minumnya.” (Shahih HR. Al-Bukhari)

Maka semestinya orang yang berpuasa tidak mendatangi pasar, supermarket, mall atau tempat-tempat keramaian lainnya kecuali ada keperluan yang mendesak. Karena biasanya tempat-tempat tersebut boleh menyeretnya untuk mendengarkan dan melihat perkara-perkara yang diharamkan Allah Ta'ala. Begitu pula menjauhi tv karena tidak boleh ditapis lagi bahwa efek negatifnya sangat besar baik bagi orang yang berpuasa maupun yang tidak berpuasa.

3. Bersabar untuk menahan diri dan tidak membalas ejekkan yang ditujukan kepadanya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits Abu Hurairah radiyallahu 'anhu:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ يَوْمَئِذٍ وَلاَ يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ

“Puasa adalah ibadah, maka apabila salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah dia berkata kotor dan janganlah bertengkar dengan mengangkat suara. Jika dia dicela dan disakiti maka katakanlah saya sedang berpuasa.” (Shahih, HR. Muslim)

Dari hadits tersebut bisa diambil pelajaran tentang wajibnya menjaga lisan. Apabila seseorang boleh menahan diri dari membalas ejekkan maka tentunya dia akan terjauh dari memulai menghina dan melakukan ejekkan yang lainnya.

Sesungguhnya puasa itu akan melatih dan mendorong seorang muslim untuk berakhlak mulia serta melatih dirinya menjadi insan yang biasa menjalankan ketaatan kepada Allah. Namun mendapatkan hasil yang demikian tidak akan didapat kecuali dengan menjaga puasanya dari beberapa hal yang tersebut di atas.

Puasa itu ibarat sehelai baju. Bila orang yang memakai baju itu menjaganya dari kotoran atau sesuatu yang merusaknya, tentu baju tersebut akan menutupi auratnya, menjaganya dari terik matahari dan udara yang dingin serta memperindah penampilannya. Demikian pula puasa, orang yang mengamalkannya tidak akan mendapatkan buah serta faedahnya kecuali dengan menjaga diri dari hal-hal yang boleh mengurangi atau bahkan menghilangkan pahalanya.

Wallahu a’lam bish-shawab. 
__________________________________________________

08 December 2009

DAGING KORBAN



 Sapi yang telah di sembelih


 YB Awang Bemee menyampaikan daging korban kepada
salah seorang pemerima

Pada tahun ini HIKMAH Sibu telah menjalankan aktiviti korban semperna sambutan Hari Raya Haji / Korban. Kita telah diberikan 3 ekor sapi masing-masing oleh YB Awang Bemee Awang Ali Basah (1 ekor) dan Datuk Temenggong Hj Wan Hamid Endruce(2 ekor). Majlis penyembelihan telah dijalankan di perumahan Sibu Jaya pada hari sabtu 28/11/09. Sebanyak 2 ekor sapi telah disembelih pada hari tersebut dan daging sembelihan telah diagihkan kepada saudara kita di sekitar kawasan perumahan Sibu Jaya. Majlis penyerahan agihan telah dilakukan oleh YB Awang Bemee. Pada 30/11/09 pula kita telah mengadakan penyembelihan yg kedua dimana seekor sapi telah kita sembelihkan. Majlis penyembelihan telah dilakukan di perkarangan Masjid An-Nur (Masjid Bahagian Sibu). Semua daging sembelihan telah diagihkan kepada saudara kita yang tinggal di sekitar kampung Sentosa, Jalan Salim, Sibu. Majlis penyerahan agihan telah dilakukan oleh Pengerusi HIKMAH Bahagian Sibu iaitu Encik Kameri Bin Hj. Meraf. HIKMAH Sibu berharap semoga majlis seperti ini boleh merapatkan lagi ukhuwah di antara warga HIKMAH dan penduduk di tempat tersebut terutama saudara kita dengan mengadakan majlis korban ini secara bergotong-royong.


Pengerusi HIKMAH Bahagian Sibu Encik Kameri
menyerahkan daging korban kepada pengerusi saudara kita
dari kampung Sentosa, Salim.


Ustaz Mohd Amir mencuba bakat dalam memotong
daging korban


Gotong-royong memotong daging korban


Berat juak paha sapi tok ehh...


Orang yang berpengelaman dalam memotong daging


 Gotong-royong adalah amalan orang-orang kita
 dari dulu hingga sekarang


Menimbang dan membungkus daging korban untuk
di agihkan kepada menerima


Isik jak dalam plastik daging korban ya....hehehe...
___________________________________________

18 November 2009

MAJLIS PENYAMPAIAN SIJIL DAN HADIAH

Tadika Islam Nurul Hidayah HIKMAH Sibu telah mengadakan Majlis penyampaian Sijil dan Hadiahnya pada 15 November 2009 bersamaan 27 Zulkaedah 1430H jam 09:00 pagi di Dewan Auditorium RTM Sibu. Majlis tersebut telah di rasmikan oleh Ustaz Saidal Bin Mat, Penolong Penyelia Pendidikan Islam dan Moral, Jabatan Pendidikan Daerah Sibu. Bermacam-macam persembahan telah dipersembahkan oleh pelajar-pelajar Tadika Islam Nurul Hidayah HIKMAH Sibu dari pelajar tahun 4 sehingga ke tahun 6. Antara persembahan yang disembahkan oleh pelajar ialah : Hafalan surah-surah lazim, ucapan wakil pelajar oleh adik Izaz Rizqi bin Wahid, Pentomin, Nyayian dan Riadah. Acara kemuncak pada majlis tersebut ialah penyampaian sijil dan hadiah kepada graduan 2009. Jika anda ingin melihat / mengetahui dengan lebih lanjut lagi Majlis Penyampaian Sijil dan Hadiah Tadika Islam Nurul Hidayah HIKMAH Sibu anda boleh berkunjung ke blog Tadika Hikmah Sibu di www.tadikahikmahsibu.wordpress.com atau anda boleh klik disini


Ucapan oleh wakil pelajar adik Izaz Rizqi bin Wahid


Ucapan aluan Pengerusi HIKMAH Bahagian Sibu Encik Kameri Bin Hj. Meraf


 Ucapan tetamu kehormat Ustaz Saidal bin Mat


 Persembahan Hafalan surah-surah lazim oleh pelajar kelas Bijaksana
_____________________________________________

03 November 2009

MUSIM HAJI TIBA LAGI




Haji adalah merupakan salah satu dari hukum Islam yang lima yang wajib ditunaikan oleh setiap Muslim, lelaki dan perempuan apabila cukup syarat-syaratnya. Menurut jumhur ulama', fardhu haji mula diwajibkan pada tahun ke enam Hijrah kerana pada tahun itulah turunnya wahyu Allah yang bermaksud:
"Dan tunai atau sempurnakanlah ibadat haji dan umrah kerana Allah"
(Surah Al- Baqarah ayat 196)
Dalam pada itu Ibnul Qaiyim menguatkan pendapat bahawa mulai diwajibkan haji itu ialah pada tahun ke sembilan atau ke sepuluh Hijrah. Sesiapa yang menafikan hukum wajib haji itu maka bererti kufur dan murtadlah ia dan terkeluar dari Agama Islam.
Sebagaimana firman Allah yang bermaksud:-
"Dan menjadi kewajipanlah bagi manusia terhadap Allah untuk mengunjungi rumah itu bagi yang sanggup berjalan diantara mereka. Dan barang siapa yang mengingkarinya, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari sekalian alam"
(Surah Ali Imran ayat 97)
Haji merupakan perlakuan ibadah umat islam yang mempunyai banyak simbolik yang dikemukakan kepada manusia dalam bentuk penonjolan diri, demostrasi atau perisytiharan, bukan menuntut sesuatu yang bersifat kebendaaan atau keduniaan, tetapi demontrasi untuk menyatakan tauhid dengan slogan dan laungan kalimah suci, Allahhu Akhbar, Allah Maha Besar, berulang-ulang kali dengan keyakinan dan ketaqwaan, pengakuan yang jelas dan tegas sekalipun kufur atau musyrikin tidak menyenanginya. 
 
Pengisytiharan tauhid yang jelas dan laungan yang tegas dilakukan serentak menyebut nama Allah, "Labayk Allah Humma Labbyk, Labbaykka La Syarikalak Labbayk, Innal Hamda Wa al- Ni'mata Laka wa al-Mulk, La Syarikalak", dilaungkan bukan kerana sesuatu kekurangan, tetapi penyataan sesuatu ibadah dalam bentuk demontrasi menentang syirik, kezaliman dan kesesatan yang dilakukan oleh manusia yang tidak mentauhidkan Allah. 
 

Sikap dan pendirian yang tegas dalam perkara 'ubudiah yang menjadi ajaran para anbia' sejak zaman-berzaman perlu diisytihar dengan jelas supaya sekali-kali jangan terlibat dengan syirik atau tanghut. 
 
Sebaliknya hendaklah mengabdikan diri semata-mata kerana Allah - diri, pemikiran, fizikal, harta benda dan nawaitunya hanya semata untuk Allah. Segala bentuk kesesatan, syirik atau penyembahan system yang menuju ke arah taghut wajib dijauhi.


Islam tidak menuntut sikap bertindak balas terhadap pihak yang memesongkan akidah, tetapi bersikap Islam, kebaikan dan keamanan. Bagaimanapun, jika mereka sering dan terus berusaha menyelewengkan manusia daripada mentauhidkan Allah maka diwujudkan suatu amalan ibadah dalam bentuk demonstrasi terang-terangan bagi melawan kerja-kerja mereka yang sesat sekalipun orang-orang musyrikin, golongan kuffar dan munafiqun tidak menyenanginya. 
____________________________________________

14 October 2009

GEMPA BUMI - Peringatan Dari Allah



Adakah kita sedar bahawa kita ini sebenarnya umpama telor di hujung tanduk sahaja. kenapa saya kata begitu? Ini kerana , jika kita lihat Struktur Bumi terdiri daripada tiga lapisan iaitu kerak, mantel dan teras. Teras bumi merupakan lapisan yang paling dalam dan terdiri daripada dua lapisan iaitu teras dalam dan teras luar. Bumi dianggarkan mempunyai teras dalam yang terdiri daripada sfera besi-nikel beku setebal 1,370 kilometer dengan suhu mencecah 4,500°C, diselitupi pula oleh teras luar yang cair setebal 2,100 kilometer.

Kerak Bumi merupakan lapisan luar bumi paling nipis dan keras, ketebalan 5-40 km,sebahagian besarnya terdiri daripada batu granit

Mantel (teras luar) lapisan yang mengelilingi teras bumi, ketebalannya 2900 km, terdapat arus perolakan, suhu 3000°C

Teras bumi (core) terdiri daripada teras luar dan teras dalam, suhu 6000° C., kaya dengan nikel dan besi, tekanan tinggi

Jika kita lihat suhu di dalam bumi serta tekanan yang tinggi, maka sebenarnya di bahagian mana pun kita tinggal, kita tidak selamat. Ibarat telor di hujung tanduk itulah, jika terjatuh, pasti pecah. Kerak bumi itu ibarat kulit telor sahaja jika diukur dengan ketebalan bahagian mantel dan teras.Dalam bumi ini pula arus perolakan sentiasa berlaku dan berusahah mahu bebas menolak lapisan kerak bumi yang tidak stabil lalu terjadi lah gegaran dan gempa bumi.

Gempa bumi, adalah suatu fenomena pergerakan permukaan bumi disebabkan oleh pergerakan yang mengejut di permukaan bumi yang berbatu. Gempa bumi berlaku apabila tenaga yang tersimpan dalam bumi, biasanya di dalam bentuk geseran batu, tiba-tiba terlepas.

Gempa bumi diukur dengan menggunakan alat yang dipanggil Skala Richter. Gempa bumi ini boleh digredkan satu hingga sembilan berdasarkan saiznya berdasarkan skala Richter. Gempa bumi juga boleh diukur dengan menggunakan ukuran Skala Mercalli. Gegaran sering berlaku tetapi tidak semua di antara gegaran itu kuat untuk membolehkan kita merasainya.

Tenaga ini disalurkan ke permukaan bumi menyebabkan gelombang gempa bumi. Kajian sains mengenai gempa bumi dan gelombangnya dikenali sebagai seismologi (dari perkataan Greek seismos, untuk menggoncang).


Waktu Gempa Bumi sama dengan ayat dan surah dalam Al-Quran 
Gempa di Padang jam 17.16, gempa susulan 17.58, esoknya gempa di Jambi jam 8.52. Coba lihat Al-Qur’an!” demikian bunyi pesan singkat yang beredar. Siapa pun yang membuka Al-Qur’an dengan tuntunan pesan singkat tersebut akan merasa kecil di hadapan Allah Swt. Demikian ayatayat Allah Swt tersebut:

17.16 (QS. Al Israa’ ayat 16): “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”
17.58 (QS. Al Israa’ ayat 58): “Tak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya) , melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuz).”
8.52 (QS. Al Anfaal: 52): "(Keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutny a serta orang-orang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Amat Keras siksaan-Nya.”
Tiga ayat Allah Swt di atas, yang ditunjukkan tepat dalam waktu kejadian tiga gempa kemarin di Sumatera, berbicara mengenai azab Allah berupa kehancuran dan kematian, dan kaitannya dengan hidup bermewah-mewah dan kedurhakaan, dan juga dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutny a. Ini tentu sangat menarik.
Semoga penerangan ini bermanafaat untuk renungan kita bersama, adakah mahu terus leka atau mula untuk mengabdikan diri kepada Allah SWT. Kita di Malaysia semestinya berasa bersyukur kerana kita di jauhi dari gempa bumi yang sentiasa melanda negara jiran kita Indonesia.

____________________________________________________________

25 September 2009

PUASA ENAM SYAWAL

Dua jenis amalan menentukan peribadi seseorang Muslim iaitu amalan wajib dan amalan sunat. Wajib bermaksud sesuatu yang dituntut untuk melakukannya dan berdosa jika ditinggalkan seperti solat fardu, puasa pada Ramadan dan membayar zakat.

Sunat pula bermaksud sesuatu yang dianjurkan untuk melakukannya dan tidaklah berdosa jika ditinggalkan. Antara contoh amalan sunat ialah solat, mengucapkan amin apabila membaca fatihah dalam solat dan banyak lagi.

Walaupun meninggalkan amalan sunat tidaklah menyebabkan berdosa, ia adalah amalan sangat disukai Allah.

Abu Hurairah meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW bersabda bermaksud: "Sesungguhnya Allah berfirman yang maksudnya: "Sesiapa yang memusuhi wali-Ku, maka sesungguhnya aku mengisytiharkan perang terhadapnya. Dan tiada seorang hamba-Ku yang bertaqarrub (beramal) kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai hanya dari ia menunaikan semua yang Aku fardukan ke atas dirinya. Dan hendaklah hamba-Ku sentiasa bertaqarrub dirinya kepada-Ku dengan nawafil (ibadat sunat) sehingga Aku mencintainya. Maka apabila Aku telah mencintainya, nescaya adalah Aku sebagai pendengarannya yang ia mendengar dengannya, dan sebagai penglihatannya yang ia melihat dengannya, dan sebagai tangannya yang ia bertindak dengannya, dan sebagai kakinya yang ia berjalan dengannya. Dan jika ia meminta kepada-Ku nescaya Aku berikan kepadanya, dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku nescaya Aku lindungi." (Hadis riwayat Al-Bukhari)


Antara ibadat sunat yang amat digalakkan selepas puasa wajib Ramadan ialah puasa enam hari semasa Syawal. Persoalannya, bilakah waktu terbaik melakukannya, dan bagaimanakah cara untuk menunaikannya jika puasa wajib belum lagi diganti atau diqada?

Puasa enam hari pada Syawal sebenarnya amat besar ganjaran yang ditawarkan Allah. Ia disebut secara jelas oleh Rasulullah SAW.

Dilaporkan daripada Abu Ayyub al-Ansari bahawa Rasulullah SAW bersabda bermaksud: "Sesiapa berpuasa sepanjang Ramadan, kemudian diikuti dengan puasa enam hari Syawal, maka seakan-akan dia berpuasa selama satu tahun." (Hadis riwayat Muslim, Abu Dawud, An-Nasa'i dan Ibnu Majah)

Ini bermakna dengan berpuasa sunat selama enam hari pada Syawal selepas berpuasa wajib pada Ramadan, seolah-olah mereka berpuasa sepanjang tahun.

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: "Allah telah menggandakan setiap kebaikan dengan sepuluh kali ganda. Puasa Ramadan setara dengan berpuasa sebanyak sepuluh bulan. Dan puasa enam hari Syawal yang menggenapkannya satu tahun." (Hadis riwayat An-Nasa'i dan Ibnu Majah)

Hadis ini mempamerkan bahawa ganjaran diberikan Allah itu sepuluh kali ganda. Ini bermakna jika kita berpuasa selama 30 hari pada Ramadan, maka digandakan menjadi 300 hari, manakala puasa enam hari pada Syawal digandakan menjadi 60 hari. Ganjaran Allah adalah sebanyak 360 hari.

Persamaan yang lain, jika berpuasa selama sebulan pada Ramadan akan menyamai 10 bulan, kemudian diikuti puasa selama enam hari pada Syawal akan menyamai dua bulan. Justeru genaplah berpuasa selama setahun.

Ada dua pendapat ulama mengenai hal ini. Majoriti ulama berpendapat, puasa enam dilakukan secara berturut-turut selepas Hari Raya. Ia dimulai pada hari raya kedua dan seterusnya sehingga genap enam hari. Sebahagian ulama pula berpendapat puasa enam itu boleh dilakukan secara berselang-seli atau tidak terus menerus sepanjang Syawal.

Justeru, kita mempunyai kebebasan untuk membuat pilihan sama ada melakukannya secara berturut-turut ataupun berselang seli.

Bagaimanakah pula kaedah menunaikan puasa sunat pada Syawal jika puasa Ramadan masih belum diganti atau qada? Persoalan itu juga mempunyai beberapa pandangan. Pendapat pertama mengatakan adalah memadai seseorang yang ingin melakukan puasa qada dan puasa enam dengan berniat hanya puasa qada pada Syawal. Mereka akan mendapat dua ganjaran sekali gus dengan syarat dia perlu berniat puasa qada terlebih dulu. Ini kerana puasa qada adalah wajib dan puasa enam adalah sunat.

Hal yang sama berlaku ke atas solat tahiyatul masjid. Jika seseorang memasuki masjid dan terus melakukan solat fardu, maka dia akan diberi ganjaran dua pahala sekali gus.

Pendapat kedua ialah jika seseorang melakukan kedua-duanya secara berasingan akan mendapat kelebihan di sisi Allah kerana sebagai seorang hamba yang tunduk kepada Allah, maka memperbanyakkan amalan taqarrub dengan memisahkan antara yang wajib dengan sunat lebih menunjukkan kesungguhan diri sebagai seorang hamba.

Ada juga ulama berpendapat bahawa puasa enam seharusnya didahulukan kerana ia hanya boleh diamalkan pada bulan Syawal saja. Bagi puasa qada, ia boleh dilakukan dalam tempoh 10 bulan berikutnya sebelum tibanya Ramadan akan datang.

Lakukan ibadat sunat ini sama ada berpuasa secara berturut-turut atau berselang-seli. Begitu juga dengan puasa qada. Lakukanlah sama ada secara digabungkan puasa enam dengan puasa qada ataupun secara berasingan.

Terpulanglah kepada diri kita sendiri berdasarkan kemampuan masing-masing. Hal ini kerana ganjaran ditawarkan Allah amat besar. Ia juga adalah tambahan kepada kekurangan yang diimbangi oleh zakat fitrah.
________________________________________________

18 September 2009

AIDILFITRI - Antara Ibadah dan Adat

Hari Raya Aidil Fitri akan menjelang kembali. Ia disambut berulang-ulang pada tiap-tiap tahun dan disyariatkan oleh Allah s.w.t. untuk Umat Islam merayakannya. Ianya disambut menandakan kesyukuran Umat Islam di atas kejayaan mereka melaksanakan fardu puasa sepanjang bulan Ramadan dan menandakan kemenangan mereka dalam perjuangan menahan hawa nafsu dari perkara-perkara yang ditegah di dalam bulan puasa.
Rasulullah pernah bersabda yang bermaksud: “Bagi orang yang berpuasa itu dua kegembiraan, pertama kegembiraan ketika mereka berbuka dan kedua kegembiraan mereka ketika bertemu dengan Tuhannya yang Maha Pemurah.”

Umat Islam merayakan Hari Raya ini dengan penuh kesyukuran dan dengan pelbagai jenis amal bakti yang diredai oleh Allah s.w.t. di antaranya sembahyang Hari Raya, ziarah menziarahi di antara sesama mereka, bersedekah dan lain-lain lagi.

Kemuliaan Aidil Fitri diterangkan oleh Allah di dalam Al-Quran dan oleh Rasulullah di dalam beberapa hadisnya. Oleh kerana itu kita Umat Islam amat digalakkan untuk menghidupkan Malam Hari Raya sama ada Hari Raya Puasa atau Hari Raya Korban. Sehubungan dengan ini Allah berfirman di dalam Al Quran, ertinya: “Dan supaya kamu cukupkan bilangan puasa sebulan Ramadhan dan supaya kamu membesarkan Allah dengan Takbir dan Tahmid serta Takdis kerana mendapat petunjukNya dan supaya kamu bersyukur.”

Kemuliaan Hari Raya juga diterangkan di dalam Hadis seperti sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud: Daripada Umamah r.a. bahawasanya Nabi Muhammad s.a.w. telah bersabda “Barangsiapa mengerjakan amal ibadah pada malam Hari Raya Aidilfitri dengan mengharapkan keredaan Allah semata-mata hatinya tidak akan mati pada hari kiamat sebagai matinya hati orang-orang kafir yang ingkar pada hari kiamat.”

Daripada hadis di atas dapatlah kita membuat kesimpulan bahawa Hari Raya satu perkara yang disyarakkan dalam Islam dan pada Hari Kiamat kelak orang-orang yang beriman dan beramal soleh hatinya hidup bahagia dan gembira kerana berjaya mendapat balasan yang baik dan keredaan Allah SWT hasil daripada amal-amal kebajikan yang mereka kerjakan di dunia seperti berpuasa di bulan Ramadhan. Sebaliknya orang yang kufur dan ingkar hatinya mati mereka hampa dan kecewa pada hari itu kerana dimurkai oleh Allah dan mereka ditimpa dengan seburuk-buruk balasan.

Terdapat juga hadis-hadis yang lain yang menceritakan tentang menghidupkan malam Hari Raya seperti hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tabrani r.a. yang bermaksud: “Barangsiapa menghayati malam Hari Raya Aidil Fitri dan malam Hari Raya Aidil Adha dengan amal ibadah sedang dia mengharapkan keredaan Allah semata-mata hatinya tidak akan mati seperti hati orang-orang kafir.”

Umat Islam digalakkan menyambut Hari Raya Aidil Fitri dengan tahmid sebagai bersyukur kepada Allah bersempena dengan hari yang mulia itu. Ini diterangkan di dalam Al-Quran dan juga di dalam hadis Rasulullah s.a.w. yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. Maksudnya :"Hiasilah Hari Raya kamu dengan Takbir dan Tahmid.” dan daripada Anas r.a.:"Hiasilah kedua-dua Hari Raya kamu iaitu Hari Raya Puasa dan juga Hari Raya Korban dengan Takbir, Tahmid dan Taqdis.”

Walaubagaimanapun kekeliruan terhadap Aidil Fitri di kalangan umat Islam menyebabkan hari ibadah sudah bertukar menjadi tradisi, hampir menyamai tradisi kaum lain yang menyambut hari raya mereka yang merupakan pesta atau majlis hiburan.

Marilah kita hidupkan malam Aidil Fitri dengan ibadah bukan dengan gelaktawa dan hiburan. Bergembira di hari raya selalu disalah ertikan. Kita sepatutnya gembira dengan menunjukkan kesyukuran dan membesarkan Allah dengan takbir dan tahmid. Bukan dengan muzik dan bunyian mercun.

Bagi meyambut hari kebesaran ini, ramai yang bertakbir tetapi tidak ramai yang berusaha menghayati lafaz-lafaz dalam takbir dan tahmid itu walaupun diulang-ulang setiap kali tibanya hari raya. Penghayatan dan kemanisan lafaz-lafaz itu tidak dapat dirasai.
Maksud takbir :

"Allah maha besar. Tiada tuhan melainkan Allah, kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya, dengan ikhlas untuk agama (Islam), walaupun dibenci oleh golongan yang menyekutukan Allah. "

"Tiada tuhan melainkan Allah Yang Esa yang benar janji-Nya, yang memuliakan tentera-tenteraNya (tentera Muslimin) yang menolong hamba-Nya (dengan) mengalahkan tentera Ahzab (tentera bersekutu yang diketuai oleh kaum musyrikin serta kaum Yahudi dan Nasrani) dengan keesaan-Nya."

"Tiada tuhan melainkan Allah yang Maha Besar Allah Yang Maha Besar dan untuk Allah-lah segala puji-pujian."

________________________________________________

16 September 2009

MAJLIS PENYERAHAN SUMBANGAN DAN BERBUKA PUASA

Pada 11 September 2009 bersamaan dengan 21 Ramadhan 1430H Pihak HIKMAH Bahagian Sibu telah mengadakan majlis penyerahan sumbangan kepada saudara kita di sekitar bandar Sibu dan majlis berbuka puasa. Majlis tersebut telah diadakan di dewan mini di Masjid An-Nur (Masjid Bahagian Sibu). Seramai 22 orang saudara kita yang layak menerima sumbangan tersebut dan sumbangan telah diserahkan oleh Pengerusi HIKMAH Bahagian Sibu encik Kameri Bin Meraf dan disaksikan oleh Pegawai Dakwah dari Ibu Pejabat HIKMAH Kuching iaitu Tuan Hj. Abd Rahman. Turut hadir pada majlis tersebut ialah Pengerusi HIKMAH Cawangan Sibu, encik Nur Azman Yaakub,pegawai HIKMAH zon tengah , Ust. Amir Bin Abdullah, daie HIKMAH Bahagian Kapit Ust. Fazli, AJK HIKMAH Bahagian / Cawangan Sibu dan guru-guru Tadika Islam NurulHidayah HIKMAH Sibu. Sumbangan tersebut merupakan sumbangan dari pihak ibu pejabat HIKMAH yang disalurkan kepada HIKMAH Bahagian Sibu untuk di agihkan kepada saudara kita yang layak demi meringankn beban mereka sempena dengan sambutan Hari Raya yang akan menjelma tidak lama lagi. Majlis tersebut diteruskan dengan berbuka puasa di Masjid An-Nur dan solat Magrib berjemaah.
_____________________________________________

08 September 2009

MALAM LAILATUL-QADAR

Malam Lailatul-Qadar sunat dicari, kerana malam ini merupakan suatu malam yang diberkati serta mempunyai kelebihan dan diperkenankan doa oleh Allah s.w.t . Malam Lailatul-Qadar adalah sebaik-baik malam mengatasi semua malam termasuk malam Jumaat.
Allah s.w.t berfirman dalam surah Al-Qadr : 3 :-
“Malam Lailatul-Qadar lebih baik daripada seribu malam”
Ertinya menghidupkan malam Lailatul-Qadar dengan mengerjakan ibadah adalah lebih baik daripada beribadah pada seribu bulan yang tidak ada Lailatul-Qadar seperti sabda Nabi s.a.w:-
“Sesiapa menghidupkan malam Lailatul-Qadar kerana beriman serta mencari pahala yang dijanjikan akan mendapat pengampunan daripada dosa-dosa yang telah lalu”
Diriwayatkan daripada Saiyidatina Aisyah r.a bahawa Rasulullah s.a.w apabila tiba 10 hari terakhir bulan Ramadhan, baginda menghidupkan malam-malamnya dengan membangunkan isi rumah dan menjauhi daripada isteri-isterinya.
Imam Ahmad dan Muslim meriwayatkan :
“Rasulullah s.a.w berusaha sedaya upaya dalam malam-malam sepuluh akhir Ramadhan melebihi usahanya daripada malam-malam lain”
Malam Lailatul-Qadar berlaku pada 10 akhir daripada malam ganjil bulan Ramadhan. Rasulullah s.a.w. Bersabda :-
“Carilah malam Lailatul-Qadar pada sepuluh akhir bulan Ramadhan dalam malam ganjil”
Pendapat yang kuat mengikut para ulama' bahawa malam Lailatul-Qadar adalah pada malam 27 Ramadhan. Menurut Abu Ka'ab katanya, “Demi Allah sesungguhnya Ibn Mas'ud telah meyakinkan bahawa malam Lailatul-Qadar jatuh dalam bulan Ramadhan manakala Lailatul-Qadar pula adalah pada malam 27 Ramadhan, akan tetapi dia enggan memberitahu kepada kami (malam yang tepat) kerana bimbangkan kamu tidak lagi berusaha mencarinya”.
Daripada riwayat Mu'awiayah :-
“Bahawa Nabi Muhammad s.a.w telah bersabda malam Lailatul-Qadar iaitu malam ke-27”
Riwayat ini disokong oleh pendapat Ibn Abbas yang menguatkan bahawa surah Al-Qadr mempunyai 30 perkataan. Perkataan yang ke-27 bagi surah itu jatuh kepada dhamir(hia) yang kembalinya kepada Lailatul-Qadar.
Imam Ahmad telah meriwayatkan sebuah hadith daripada Ibn Umar r.a :-
“Sesiapa yang mencari Lailatul-Qadar, dia hendaklah mencarinya pada malam yang ke-27, carilah kamu malam Lailatul-Qadar pada malam yang ke-27”
Aisyah r.a bertanya kepada Rasulullah, katanya, “Ya Rasulullah s.a.w andainya aku mendapati malam Lailatul-Qadar, apakah doa yang patut aku bacakan ? Rasulullah s.a.w lalu berdoa dengan doa :-
“Ya Allah, Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, oleh itu berilah keampunan-Mu untukku”.

Semoga dengan kedatangan 10 akhir Ramadhan tahun ini kita berusaha menambah amalan kita untuk mencari malam Lailatul-Qadar yang dijanjikan Allah kepada umatnya dengan pahala yang berlipat kali ganda.

___________________________________________

04 September 2009

NUZUL AL-QURAN

 Pada 07 September 2009 bersamaan dengan 17 Ramadhan 1430H adalah salah satu hari yang berlaku peristiwa penting dalam Islam. Peristiwa nuzul Al-Quran menjadi satu rakaman sejarah dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW hingga seterusnya berperingkat-peringkat menjadi lengkap sebagaimana kitab al-Quran yang ada pada kita hari ini.
Peristiwa Nuzul al-Quran berlaku pada malam Jumaat, 17 Ramadhan, tahun ke 41 daripada keputeraan Nabi Muhammad SAW. Perkataan ‘Nuzul’ bererti turun atau berpindah dari atas ke bawah. Bila disebut bahawa al-Quran adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW maka ianya memberi makna terlalu besar kepada umat Islam terutamanya yang serius memikirkan rahsia al-Quran.
‘Al-Quran’ bererti bacaan atau himpunan. Di dalamnya terhimpun ayat yang menjelaskan pelbagai perkara meliputi soal tauhid, ibadat, jinayat, muamalat, sains, teknologi dan sebagainya. Kalimah al-Quran, sering dicantumkan dengan rangkai kata ‘al-Quran mukjizat akhir zaman’ atau ‘al-Quran yang mempunyai mukjizat’. Malah inilah sebenarnya kelebihan al-Quran tidak ada satu perkara pun yang dicuaikan atau tertinggal di dalam al-Quran. Dengan lain perkataan segalanya terdapat di dalam al-Quran.
Firman Allah:
“Dan tidak seekor pun binatang yang melata di bumi, dan tidak seekor pun burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan mereka umat-umat seperti kamu. Tiada Kami tinggalkan sesuatu pun di dalam kitab Al-Quran ini; kemudian mereka semuanya akan dihimpunkan kepada Tuhan mereka (untuk dihisab dan menerima balasan).” (Al-An’am:38)
Al-Quran adalah hidayah, rahmat, syifa, nur, furqan dan pemberi penjelasan bagi manusia. Segala isi kandungan al-Quran itu benar. Al-Quran juga dikenali sebagai AL-Nur bererti cahaya yang menerangi, al-Furqan bererti yang dapat membezakan di antara yang hak dan batil dan al-Zikr pula bermaksud yang memberi peringatan.
Dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW ayat al-Quran yang mula-mula diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan malaikat Jibrail ialah lima ayat pertama daripada surah Al-‘Alaq. maksudnya:
“Bacalah (wahai Muhammad) dengan nama Tuhan mu yang menciptakan (sekalian makhluk), Ia menciptakan manusia dari sebuku darah beku; Bacalah, dan Tuhan mu Yang Maha Pemurah, -Yang mengajar manusia melalui pena dan tulisan, -Ia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-‘Alaq:1-5)
Semoga dengan kehadiran Nuzul Al-Quran tahun ini akan dapat menambahkan keimanan kita kepada Allah  dengan membaca dan mengamal apa yang terkandung dalamnya.

_______________________________________________