20 August 2010

IHya Ramadhan Bersama Pemimpin HIKMAH

Program Ihya Ramadhan bersama Pemimpin HIKMAH telah diadakan pada 20/08/2010 @jam 6.00 petang di Kampung Darul Falah, Sungei Gamuan, Bintangor. Tetamu kehormat yg turut hadir dalam majlis tersebut adalah Y.Bhg. Tan Sri Datuk Amar Hj. Aziz bin Dato' Hj. Husain. (Yang DiPertua HIKMAH) serta ronbongan dari ibu pejabat HIKMAH Kuching. Majlis telah di mulai seawal jam 6.00 petang dengan kehadiran penduduk kampung tersebut dan beberapa tetamu lain seperti Pengerusi Hikmah Sibu, Sarikei ,Meradong dan pihak JAKIM Sibu. Majlis dimulai dengan berbuka puasa dan solat magrib berjemaah. Tazkirah telah disampaikan oleh Dr. Awang Ismail, Pengerusi HIKMAH Cawangan Sarikei sebelum solat isyak dan sunat tarawih. Selepas solat sunat tarawih ucapan amanat dari Yang DiPertua HIKMAH dan seterusnya majlis penyampaian sumbangan kepada penduduk Kampung Darul Falah. Alhamdulillah majlis berjalan dengan jayanya dan berakhir pada jam 10.00 malam.

Gambar sekitar majlis Ihya Ramadhan Bersama Pemimpin HIKMAH
Penduduk Kampung yg hadir
YDP HIKMAH
Mendengar tazkirah Dr. Awg Ismail
Dr Awang Ismail sedang memberi tazkirah
Memberi sumbangan kpd penduduk
Antara penduduk dan tetamu yg hadir
Berbuka puasa bersama YDP HIKMAH
YDP HIKMAH menyampaikan sumbangan

17 August 2010

Puasa Tidak Sekadar Menahan Makan dan Minum

Puasa merupakan ibadah yang sangat dicintai Allah ta'ala. Hal ini sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ. قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِلاَّ الصَّوْمَ، فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي

“Setiap amalan anak Adam akan dilipatgandakan pahalanya, satu kebaikan akan berlipat menjadi 10 kebaikan sampai 700 kali lipat. Allah ta’ala berfirman: ‘Kecuali puasa, maka Aku yang akan membalas orang yang menjalankannya karena dia telah meninggalkan keinginan-keinginan hawa nafsunya dan makannya karena Aku’.” (Shahih, HR. Muslim)

Hadits di atas dengan jelas menunjukkan betapa tingginya nilai puasa. Allah ta’ala akan melipatgandakan pahalanya bukan sekedar 10 atau 700 kali lipat namun akan dibalas sesuai dengan keinginan-Nya .Padahal kita tahu bahwa Allah ta’ala Maha Pemurah, maka Dia tentu akan membalas pahala orang yang berpuasa dengan berlipat ganda.

Hikmah dari semua ini adalah sebagaimana tersebut dalam hadits, bahwa orang yang berpuasa telah meninggalkan keinginan hawa nafsu dan makannya karena Allah Ta'ala. Tidak nampak dalam zahirnya dia sedang melakukan suatu amalan ibadah, padahal sesungguhnya dia sedang menjalankan ibadah yang sangat dicintai Allah ta’ala dengan menahan lapar dan dahaga. Sementara di sekitarnya ada makanan dan minuman.

Di samping itu dia juga menjaga hawa nafsunya dari hal-hal yang boleh membatalkan puasa. Semua itu dilakukan karena mengharapkan keridhaan Allah Ta’ala dengan menyakini bahwa Allah Ta’ala mengetahui segala gerak-geriknya.

Di antara hikmahnya juga yaitu karena orang yang berpuasa sedang mengumpulkan seluruh jenis kesabaran di dalam amalannya. Yaitu sabar dalam taat kepada Allah Ta'ala, dalam menjauhi larangan, dan di dalam menghadapi ketentuan taqdir-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُوْنَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya akan dipenuhi bagi orang-orang yang sabar pahala mereka berlipat ganda tanpa perhitungan.” (Az-Zumar: 10)

Perlu menjadi catatan penting bahwa puasa bukanlah sekedar menahan diri dari makan, minum dan hal-hal lainnya yang membatalkan puasa. Orang yang berpuasa harus pula menjaga lisan dan anggota badan lainnya dari segala yang diharamkan oleh Allah Ta’ala namun bukan berarti ketika tidak sedang berpuasa boleh melakukan hal-hal yang diharamkan tersebut.

Maksudnya adalah bahwa perbuatan maksiat itu lebih berat ancamannya bila dilakukan pada bulan yang mulia ini, dan ketika menjalankan ibadah yang sangat dicintai Allah Ta'ala. Boleh jadi seseorang yang berpuasa itu tidak mendapatkan faedah apa-apa dari puasanya kecuali hanya merasakan haus dan lapar. Na’udzubillahi min dzalik.

Untuk itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang yang berpuasa agar mendapatkan balasan dan keutamaan-keutamaan yang telah Allah ta’ala janjikan. Diantaranya:

1. Setiap muslim harus menjalankan ibadah puasanya di atas iman kepada Allah Ta’ala dalam rangka mengharapkan ridha-Nya, bukan karena ingin dipuji atau sekedar ikut-ikutan keluarganya atau masyarakatnya yang sedang berpuasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah Ta'ala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun ‘alaih)

2. Menjaga anggota badannya dari hal-hal yang diharamkan Allah, seperti menjaga lisannya dari dusta, ghibah, dan lain-lain. Begitu pula menjaga matanya dari melihat orang lain yang bukan mahramnya baik secara langsung atau tidak langsung seperti melalui gambar-gambar atau filem-filem dan sebagainya. Juga menjaga telinga, tangan, kaki dan anggota badan lainnya dari bermaksiat kepada Allah Ta'ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ للهِ حَاجَةٌ فِيْ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, maka Allah Ta’ala tidak peduli dia meninggalkan makan dan minumnya.” (Shahih HR. Al-Bukhari)

Maka semestinya orang yang berpuasa tidak mendatangi pasar, supermarket, mall atau tempat-tempat keramaian lainnya kecuali ada keperluan yang mendesak. Karena biasanya tempat-tempat tersebut boleh menyeretnya untuk mendengarkan dan melihat perkara-perkara yang diharamkan Allah Ta'ala. Begitu pula menjauhi tv karena tidak boleh ditapis lagi bahwa efek negatifnya sangat besar baik bagi orang yang berpuasa maupun yang tidak berpuasa.

3. Bersabar untuk menahan diri dan tidak membalas ejekkan yang ditujukan kepadanya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits Abu Hurairah radiyallahu 'anhu:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ يَوْمَئِذٍ وَلاَ يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ

“Puasa adalah ibadah, maka apabila salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah dia berkata kotor dan janganlah bertengkar dengan mengangkat suara. Jika dia dicela dan disakiti maka katakanlah saya sedang berpuasa.” (Shahih, HR. Muslim)

Dari hadits tersebut bisa diambil pelajaran tentang wajibnya menjaga lisan. Apabila seseorang boleh menahan diri dari membalas ejekkan maka tentunya dia akan terjauh dari memulai menghina dan melakukan ejekkan yang lainnya.

Sesungguhnya puasa itu akan melatih dan mendorong seorang muslim untuk berakhlak mulia serta melatih dirinya menjadi insan yang biasa menjalankan ketaatan kepada Allah. Namun mendapatkan hasil yang demikian tidak akan didapat kecuali dengan menjaga puasanya dari beberapa hal yang tersebut di atas.

Puasa itu ibarat sehelai baju. Bila orang yang memakai baju itu menjaganya dari kotoran atau sesuatu yang merusaknya, tentu baju tersebut akan menutupi auratnya, menjaganya dari terik matahari dan udara yang dingin serta memperindah penampilannya. Demikian pula puasa, orang yang mengamalkannya tidak akan mendapatkan buah serta faedahnya kecuali dengan menjaga diri dari hal-hal yang boleh mengurangi atau bahkan menghilangkan pahalanya.

Wallahu a’lam bish-shawab. 
__________________________________________________

14 April 2010

PusI DakwaH...

Dakwah itu cinta,
Kerana dakwah itu cinta,
Aku lakukan apa pun untuknya,
Aku korbankan masa bersenang-senangku untuknya,
Aku sedikitkan masa tidurku untuknya..
Dan kerana dakwah itu cinta,
Aku mendahulukan lebih dari yang lainnya,
Aku biarkan air mata membasahi hari-hariku untuknya,
Aku biarkan darah mengalir banjir di jalan-jalanku untuknya,
Semuanya,

Kerana dakwah itu cinta..
Dan kerana dakwah itu cinta,
Menggapai kemanisannya terasa terlalu jauh,
Perjalanannya penuh dengan ranjau berliku,
Tidak ada bebunga indah mewangi,
Cuma duri kaca yang menusuk kekuatan jiwa ini..
Dan kerana dakwah itu cinta,
Bukanlah semudah itu untuk merasainya,
Kerana sebuah cinta belum tentu terasa,
Belum tentu difahami ertinya,

Kerana dakwah itu cinta,
Amat sedikit yang mengerti ia..
Dan kerana cinta itu tak semudah sangkaan mata,
Terkadang ada yang tersungkur jatuh,
Terkulai lesu dan futur dari medannya,
Terus merangkak dan tidak berdiri lagi,
Itulah yang selalu terjadi,
Sejak akhir-akhir ini..
Wahai para pejuang dakwah ini,
Kita tidaklah sesuatu yang sia-sia terlahir di sini,
Yang hanya melihat dan menunding jari,
Duduk sekadar bergoyang kaki,
Bukanlah juga yang sekadar berkata,

"Dakwah itu cinta"..
Tapi kita,
Adalah pencinta dakwah ini,
Terus berjuang dan berpaksi,
Tegakkan kalimah Ilah dimuka bumi,
Tidak pernah henti,
Hingga diri termakan bumi..

07 April 2010

KEINDAHAN BERSAMA MU(KBM)


Pada 13-14 feb 2010 yang lalu Hikmah Sibu dangan kerjasama JIM Kuching mengadakan Program motivasi Keindahan Bersama Mu(KBM) yang di kendalikan oleh Sdr Cikgu Syukri dari JIM kuching.Seramai 76 orang pelajar dari SM Teknik Sibu dan Kelab remaja Hikmah Sibu. Objektif program ini ada lah untuk membina sahsiah diri remaja-remaja muslim. Dimana apa yang kita lihat sekarang ramai remaja-remaja muslim yang terlibat dengan gejala sosial.InsyaAllah Hikmah Sibu memandang serius perkara begini dan cuba berusaha yang termampu untuk mendekatkan Remaja-remaja dengan Aktivit-aktiviti yang berfaedah.Pada program ini juga ,ibubapa pelajar yang menyertai salah satu slot untuk Ibubapa begitu berpuas hati dengan pengisian dan melihat perubahan anak-anak mereka semasa program ini berjalan,ada sesetengah Ibubapa menitis airmata.InsyaAllah kami pihak Hikmah Sibu akan berusaha sedaya upaya mempelbagaikan aktiviti remaja di masa-masa akan datang.

19 February 2010

SEMINAR ANDA BIJAK JAUHI ZINA

Dalam menghayati kehidupan masyarakat Islam di sekeliling terutama sekali remaja2 yang agak jauh dengan kehidupan beragama sehingga kan di sana sini kita melihat remaja2 Islam kita tanpa segan silu mengadakan aktiviti yang mendekat Zina,bercauple dan sebagainya.Kita lihat di dada2 akbar natijah dari keadaan yang sedemikian.Sex bebas lahirlah anak2 luar nikah,kes buang bayi..Dengan ini pihak Hikmah sibu mengadakan program mendekati remaja dengan seminar ANDA BIJAK JAUHI ZINA,dengan kerja sama Jakim unit Sibu dan JIM Sarawak,cawangan Kuching.Di kendali kan sepenuh nya oleh Team KBM JIM Kuching.Saudara CikguAhmad Syukri,NYDP JIM Kuching.pada 12.02.10 bilik seminar jakim.Program tersebut di hadiri oleh wakil-wakil remaja dari surau-surau dan sekolah di sekitar sibu,dan mendapat sambutan begitu menggalakkan di hadiri sekitar 70 orang remaja.
Seminar ABJZ ini ada lah pendekatan kentemporari seperti mana Wakil dari pihak Jakim unit Sibu, Ust Dahlan bin Daut semasa majlis ucapan penutupan mengatakan program ini adalah program yang bersesuaian sekali untuk mendekati remaja masa kini.yang beroriantasikan sepenuhnya mengunakan tayangan multimedia.Sekiranya ada pertubahan atau organisasi yang berminat untuk mengadakan aktiviti2 remaja bole berhubung dengan saudara Cikgu Syukri,melalui.www.abuhumairaa.blogspot.com.

09 February 2010

Program KEINDAHAN BERSAMA MU

Program KEINDAHAN BERSAMA MU (KBM)kini di Sibu.Semoga mencapai sasaran dalam rangka mengharap redha Allah.Anjuran bersama HIKMAH Sibu,JIM Sarawak dan SM Teknik Sibu.

Dozen Roses Love Note

15 January 2010

Meniti realiti kehidupan....


  Assalamualaikum,wrt.
             Kaum muslimin muslimat yang dirahmati Allah sekelian,sedar atau pun tidak masa terus berlalu tanpa menunggu kita,sama ada kita dalam keadaan yang sepatutnya sebagai seorang muslim atau pun sebaliknya,Kita telah pun melalui Tahun Hijrah 1431.
           Kita masih juga sebuk dengan urusan masing-masing yang menurut persepsi kita itu lah keutamaan,begitu juga blog ini agak lama tidak di update mungkin seperti yang ana kata sebuk tiada pernah henti mengikut persepsi kita masing-masing.

Namun muslimin dan muslimat,ikhwah dan akhwat yang ana kasihi sekelian,perlu kita merenung sedikit sebanyak di celah-celah kesibukan kita, untuk apa tujuan kita wujud di permukaan bumi ini?sekali lagi  mungkin mengikut persepsi kita masing-masing wahai ikhwah dan akhwat fillah.Andai kita mengatakan kita sebagai seorang muslim,tanpa ada alasan atau persepsi lain bahawa kejadian kita di muka bumi ini hanya untuk mengabdi diri kepada Allah swt. ya Akhi wa Ukhti sekelain.
  fitrman Allah:
        Tidak ku jadi kan jin dan manusia selain untuk beribadah pada KU
                                         (Az-Zariat :56)
Nah,saudara-saudara sekelian tanpa ada alasan, kalau kita YAKIN dan BERIMAN kepada ALLAH dan HARI AKHIR,apa kah wajar kita menyibukkan diri kita dengan urusan-urusan lain selain dari urusan untuk membesarkan Allah dalam kehidupan kita seharian.Atau kita terlena,terlupa,dengan tugas-tugas rutin harian kita menyebabkan kita tersasar dari tujuan sebenar kita dihidupkan di muka bumi ini mengabdikan diri pada Allah swt.Andai kita terasa bahawa kita telah tersasar dari tujuan sebenar kita,berusahalah mencari puncanya yang kita telah lari dari tujuan hidup kita.kembali lah mendekatkan diri pada Allah dengan amalan-amalan fardi,perbanyakkan solat-solat sunat,puasa-puasa sunat,yang terutama sekali baca Al-Quran dengan terjemaah dengan kerap,dengan bacaan Quran serta terjemaah kita akan dekat dengan ayat-ayat Allah.
           Selain amal-amal fardi sibukkan diri kita juga dengan aktivit-aktivi keagamaan dengan saudara-saudara muslim kita agar kita sering mendapat peringatan agar kita tidak tersasar jauh dari landasan.Masa berlalu saudara,usia kita makin meningkat,kalau nak diikutkan usia sepatutnya kita hanya duduk beramal untuk saat kematian kita atau untuk persediaan hari akhirat,Tahu kah saudara apa kah amalan yang afdhal sepatut nya kita usahakan di sisa-sisa usia kita yakni sebagai amalan soleh?Menyibukkan diri kita dengan menyeru kepada yang maaruf dan mencegah yang mungkar.dengan segala ilmu dan skil yang ada pada diri kita menfaat keseluruhan nya untuk amal yang AFDHAL di sisa usia kita ini.InsyaAllah kita akan mendapat kepuasa dunia dan akhirat.
Oleh demikianlah saudara blog ini di wujudkan untuk menunaikan tanggung jawap kita sama-sama sebagai amar maaruf nahi mungkar pada masyarakat,dangan harapan menjadi amal soleh dan mendapat redha Allah.
Mohon kemaafan kerana lama tidak di update.

08 December 2009

DAGING KORBAN



 Sapi yang telah di sembelih


 YB Awang Bemee menyampaikan daging korban kepada
salah seorang pemerima

Pada tahun ini HIKMAH Sibu telah menjalankan aktiviti korban semperna sambutan Hari Raya Haji / Korban. Kita telah diberikan 3 ekor sapi masing-masing oleh YB Awang Bemee Awang Ali Basah (1 ekor) dan Datuk Temenggong Hj Wan Hamid Endruce(2 ekor). Majlis penyembelihan telah dijalankan di perumahan Sibu Jaya pada hari sabtu 28/11/09. Sebanyak 2 ekor sapi telah disembelih pada hari tersebut dan daging sembelihan telah diagihkan kepada saudara kita di sekitar kawasan perumahan Sibu Jaya. Majlis penyerahan agihan telah dilakukan oleh YB Awang Bemee. Pada 30/11/09 pula kita telah mengadakan penyembelihan yg kedua dimana seekor sapi telah kita sembelihkan. Majlis penyembelihan telah dilakukan di perkarangan Masjid An-Nur (Masjid Bahagian Sibu). Semua daging sembelihan telah diagihkan kepada saudara kita yang tinggal di sekitar kampung Sentosa, Jalan Salim, Sibu. Majlis penyerahan agihan telah dilakukan oleh Pengerusi HIKMAH Bahagian Sibu iaitu Encik Kameri Bin Hj. Meraf. HIKMAH Sibu berharap semoga majlis seperti ini boleh merapatkan lagi ukhuwah di antara warga HIKMAH dan penduduk di tempat tersebut terutama saudara kita dengan mengadakan majlis korban ini secara bergotong-royong.


Pengerusi HIKMAH Bahagian Sibu Encik Kameri
menyerahkan daging korban kepada pengerusi saudara kita
dari kampung Sentosa, Salim.


Ustaz Mohd Amir mencuba bakat dalam memotong
daging korban


Gotong-royong memotong daging korban


Berat juak paha sapi tok ehh...


Orang yang berpengelaman dalam memotong daging


 Gotong-royong adalah amalan orang-orang kita
 dari dulu hingga sekarang


Menimbang dan membungkus daging korban untuk
di agihkan kepada menerima


Isik jak dalam plastik daging korban ya....hehehe...
___________________________________________

18 November 2009

MAJLIS PENYAMPAIAN SIJIL DAN HADIAH

Tadika Islam Nurul Hidayah HIKMAH Sibu telah mengadakan Majlis penyampaian Sijil dan Hadiahnya pada 15 November 2009 bersamaan 27 Zulkaedah 1430H jam 09:00 pagi di Dewan Auditorium RTM Sibu. Majlis tersebut telah di rasmikan oleh Ustaz Saidal Bin Mat, Penolong Penyelia Pendidikan Islam dan Moral, Jabatan Pendidikan Daerah Sibu. Bermacam-macam persembahan telah dipersembahkan oleh pelajar-pelajar Tadika Islam Nurul Hidayah HIKMAH Sibu dari pelajar tahun 4 sehingga ke tahun 6. Antara persembahan yang disembahkan oleh pelajar ialah : Hafalan surah-surah lazim, ucapan wakil pelajar oleh adik Izaz Rizqi bin Wahid, Pentomin, Nyayian dan Riadah. Acara kemuncak pada majlis tersebut ialah penyampaian sijil dan hadiah kepada graduan 2009. Jika anda ingin melihat / mengetahui dengan lebih lanjut lagi Majlis Penyampaian Sijil dan Hadiah Tadika Islam Nurul Hidayah HIKMAH Sibu anda boleh berkunjung ke blog Tadika Hikmah Sibu di www.tadikahikmahsibu.wordpress.com atau anda boleh klik disini


Ucapan oleh wakil pelajar adik Izaz Rizqi bin Wahid


Ucapan aluan Pengerusi HIKMAH Bahagian Sibu Encik Kameri Bin Hj. Meraf


 Ucapan tetamu kehormat Ustaz Saidal bin Mat


 Persembahan Hafalan surah-surah lazim oleh pelajar kelas Bijaksana
_____________________________________________

03 November 2009

MUSIM HAJI TIBA LAGI




Haji adalah merupakan salah satu dari hukum Islam yang lima yang wajib ditunaikan oleh setiap Muslim, lelaki dan perempuan apabila cukup syarat-syaratnya. Menurut jumhur ulama', fardhu haji mula diwajibkan pada tahun ke enam Hijrah kerana pada tahun itulah turunnya wahyu Allah yang bermaksud:
"Dan tunai atau sempurnakanlah ibadat haji dan umrah kerana Allah"
(Surah Al- Baqarah ayat 196)
Dalam pada itu Ibnul Qaiyim menguatkan pendapat bahawa mulai diwajibkan haji itu ialah pada tahun ke sembilan atau ke sepuluh Hijrah. Sesiapa yang menafikan hukum wajib haji itu maka bererti kufur dan murtadlah ia dan terkeluar dari Agama Islam.
Sebagaimana firman Allah yang bermaksud:-
"Dan menjadi kewajipanlah bagi manusia terhadap Allah untuk mengunjungi rumah itu bagi yang sanggup berjalan diantara mereka. Dan barang siapa yang mengingkarinya, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari sekalian alam"
(Surah Ali Imran ayat 97)
Haji merupakan perlakuan ibadah umat islam yang mempunyai banyak simbolik yang dikemukakan kepada manusia dalam bentuk penonjolan diri, demostrasi atau perisytiharan, bukan menuntut sesuatu yang bersifat kebendaaan atau keduniaan, tetapi demontrasi untuk menyatakan tauhid dengan slogan dan laungan kalimah suci, Allahhu Akhbar, Allah Maha Besar, berulang-ulang kali dengan keyakinan dan ketaqwaan, pengakuan yang jelas dan tegas sekalipun kufur atau musyrikin tidak menyenanginya. 
 
Pengisytiharan tauhid yang jelas dan laungan yang tegas dilakukan serentak menyebut nama Allah, "Labayk Allah Humma Labbyk, Labbaykka La Syarikalak Labbayk, Innal Hamda Wa al- Ni'mata Laka wa al-Mulk, La Syarikalak", dilaungkan bukan kerana sesuatu kekurangan, tetapi penyataan sesuatu ibadah dalam bentuk demontrasi menentang syirik, kezaliman dan kesesatan yang dilakukan oleh manusia yang tidak mentauhidkan Allah. 
 

Sikap dan pendirian yang tegas dalam perkara 'ubudiah yang menjadi ajaran para anbia' sejak zaman-berzaman perlu diisytihar dengan jelas supaya sekali-kali jangan terlibat dengan syirik atau tanghut. 
 
Sebaliknya hendaklah mengabdikan diri semata-mata kerana Allah - diri, pemikiran, fizikal, harta benda dan nawaitunya hanya semata untuk Allah. Segala bentuk kesesatan, syirik atau penyembahan system yang menuju ke arah taghut wajib dijauhi.


Islam tidak menuntut sikap bertindak balas terhadap pihak yang memesongkan akidah, tetapi bersikap Islam, kebaikan dan keamanan. Bagaimanapun, jika mereka sering dan terus berusaha menyelewengkan manusia daripada mentauhidkan Allah maka diwujudkan suatu amalan ibadah dalam bentuk demonstrasi terang-terangan bagi melawan kerja-kerja mereka yang sesat sekalipun orang-orang musyrikin, golongan kuffar dan munafiqun tidak menyenanginya. 
____________________________________________

26 October 2009

SUNGGUH KAH KITA DENGAN DAKWAH INI?

Bagaimana Anda Selepas Usrah?
Bila kita sama-sama melabuhkan tirai

Oleh: Hussaini KONSIS

"Usrah itu dimulakan dengan surah al-Fatihah"dan di akhiri dengan Kafarah al-Majlis dan surah al-Asr"

Begitulah tarbiyyah mengajarkan kita. Pembinaan ummah ini memerlukan lebih daripada 1 atau 2 atau 3 jam seminggu daripada seorang muslim itu. Pengorbanannya, untuk tajarrud ilallah, untuk meletakkan dalam dirinya, 100% untuk perjuangan ini, melebihi kepentingan peribadi pada setiap detik, hinggalah di saat-saat akhir itu. Hinggakan matinya juga diharapkan menguntungkan islam, seperti matinya ghulam dalam hadis ghulam ad-dakwah, tafsir kepada Surah al-Buruj.

Namun, ikhwah dan akhwat yang amat kucintai sekalian,

Tarbiyyah juga mengajar kita untuk mengikut marhalah (tahapan) perkembangan manusia dalam kita melahirkan 'full-timer muslim' itu. Ianya menuntut kita bersabar, membiarkan anak didik kita berkembang selari dengan masa, seumpama menunggu buah delima hijau bertukar warna.

Walaupun ia kelihatan sudah berseri-seri, jangan gopoh memetiknya. Terkadang, kita nampak buah delima itu sudah cukup kemerahan, terasa ingin sangat menganyangnya, merasai setiap biji delimanya, yang dibayangkan sudah merah ranum seperti kulitnya. Namun, jika kuning dan merah itu masih belum sebati di selaput luarnya, merekah di hujung kantungnya itu pun belum pasti, kita pasti akan kecewa, kerana hanya butir-butir mentah bakal menjadi santapan, tanpa kita mampu memperbaikinya kembali. Tanpa kita mampu untuk mengharapkan buah itu berkembang, menjadi buah yang kita impi-impi, mimpi-mimpikan selama ini...

Itulah yang digambarkan oleh As-Syeikh Hassan Al-Banna dalam risalahnya:

"Bukan dari golongan kami orang yang memetik buah sebelum masaknya."

Bekerja mengikut marhalah itu merupakan rahmat, dan jika sebaliknya, merupakan bala, gambaran amal yang sia-sia.

Jauh daripada bekerja mengikut konsep-konsep umum dakwah, apatah lagi mengikut keperluan marhalah ini, menyebabkan dakwah yang kita lakukan ini tidak ubah seperti majlis-majlis ilmu yang biasa. Dakwah kita yang sepatutnya penyeruan ke arah pembebasan daripada penghambaan sesama manusia ini, seringkali menjadi sekadar dakwah menyeru ke masjid. Tiada matlamat yang jelas. Tiada amal yang terarah. Tiada penguasaan bahan yang mantap. Tiada penyempurnaan dengan kemahiran bermain dengan hati-hati insani.

"Dakwah kita adalah segalanya", hanya tinggal kata-kata. Kerana akhirnya, kita hanya berusrah selama 1 jam, 2 jam atau 3 jam seminggu, tanpa merasakan ruh usrah dalam diri bermula tamatnya usrah. Kadang-kadang, apabila kita semakin tidak bersedia, kita lebih selesa jika keluar beramai-ramai dan mendirikan 'usrah makan'. Berkumpul di kedai-kedai mamak, borak-borak kosong, dan mendidik anak-anak usrah bercakap yang sia-sia. Kata mereka, "Itu lebih baik daripada tiada apa-apa". Dan kata mereka lagi, "Usrah bukan rigid dalam halaqah-halaqah itu sahaja".

Kataku,
"Benar dan salah". Benar, usrah itu tidak terbatas dalam halaqah-halaqah perbincangan itu semata-mata. Salah, kerana anda tidak akan berhasil apa-apa jika masih ingin bersenang-senang, bermalas-malasan begitu.

Hendak mengetahui hakikat usrah serta rukunnya? Mari kita bersoal jawab dengan Al-Quran:

Apa yang ingin dibincangkan dalam usrah, ya akhi?
"Sebagaimana Kami telah mengutuskan kepadany seorang rasul, (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu (Tazkirah: Tazkiyatul Nafs) dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Quran: Tafsir) dan Hikmah (Sunnah: Sirah dan Hadis), serta mengajarkan apa yangbelum kamu ketahui. (Taujihat dan Musykilah)" (Al-Baqarah 2: 151)
Selepas usrah, apa yang kita harapkan kita semua rasai?
"Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku." (Al-Baqarah 2: 152)
Takutnya ana, ya akhi. Jika ada masalah dalam usrah, apa yang perlu ana buat?
"Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan SABAR dan SOLAT. Sungguh Allah beserta orang-orang yang sabar." (Al-Baqarah 2: 153)
Naqib itu Ubiquitous?

Kefahaman akan pentingnya sebuah perjumpaan yang sebegitu, dengan syarat-syarat sah usrah itu, memandu kita untuk lebih berdisiplin dalam membina rijal-rijal. Sama seperti khususnya pembinaan para sahabat rasulullah, bukan bidaah yang direka-reka. Allah sudah menyediakan templatenya, kita hanya sebagai pelaksana.

Kita tahu, bahawa, setiap minggu, usrah sebegitu wajib dilaksanakan. Dan ketahuilah sahabatku, perjumpaan setiap minggu itu akan menentukan komitmen anak-anak usrah pada minggu-minggu seterusnya. Ia akan menjadi penentu keterikatan anak-anak didik dengan saff dakwah ini. Hakikat kefuturan bermula di sini, sekiranya kita hanya mampu membuatkan mereka berfikir tentang islam, semasa halaqah kecil, sementara itu sahaja.

Disinilah letaknya kelemahan usrah-usrah di sekolah, yakni usrah-usrah yang diwajibkan, tanpa mengambil kira bahawa pelajar-pelajar itu merupakan potensi-potensi ummah yang layak membuat keputusan sendiri, kita sewajarnya hanya membimbing, bukan memaksa mereka. Gagalnya usrah kita, jika sang murobbi, hanya bertaut di hati tatkala usrah. Jika sang murobbi lansung tidak diingat mereka ketika dibaca doa rabithah. Kerana, pembinaan usrah tidak diasaskan dengan ukhuwwah islamiyyah yang menyejukkan perasaan. Aku pernah merasai kekeringan itu dahulu, yang mematikan hasratku untuk bertemu lagi dan lagi. Kita tidak sudi, jika perjumpaan kita itu mekar dengan cinta sesama saudara, yang akan melonjakkan semangat yang membara.

Sang Murobbi seharusnya menjadi umpama bakteria yang ubiquitous, berada di mana-mana sahaja. Dengan perasaan atau tanpa perasaan, mereka tidak serik-serik bertemu. Menyelesaikan permasalahan-permasalahan kecil, tindakan orang-orang bijak pandai, sebelum ia besar, lebih besar dari segala kebaikan mereka. Sang Murobbi sentiasa membakar tekad mad'u, agar mereka tidak larut dalam biah jahiliyyah, menjadi sebahagian dari penyumbang kekufuran. Berada bersama, mengingatkan mereka tentang kedamaian bersama islam, sehinggakan mereka merasakan, inilah biah dan suasana yang ingin mereka wujudkan dalam masyarakat mereka. Sudah tentunya semua ini tidak dapat dilaksana, jika taaruf tidak dilaksanakan dengan setelitinya.

Mad'u masih lagi Anonymous bagimu?

14 October 2009

GEMPA BUMI - Peringatan Dari Allah



Adakah kita sedar bahawa kita ini sebenarnya umpama telor di hujung tanduk sahaja. kenapa saya kata begitu? Ini kerana , jika kita lihat Struktur Bumi terdiri daripada tiga lapisan iaitu kerak, mantel dan teras. Teras bumi merupakan lapisan yang paling dalam dan terdiri daripada dua lapisan iaitu teras dalam dan teras luar. Bumi dianggarkan mempunyai teras dalam yang terdiri daripada sfera besi-nikel beku setebal 1,370 kilometer dengan suhu mencecah 4,500°C, diselitupi pula oleh teras luar yang cair setebal 2,100 kilometer.

Kerak Bumi merupakan lapisan luar bumi paling nipis dan keras, ketebalan 5-40 km,sebahagian besarnya terdiri daripada batu granit

Mantel (teras luar) lapisan yang mengelilingi teras bumi, ketebalannya 2900 km, terdapat arus perolakan, suhu 3000°C

Teras bumi (core) terdiri daripada teras luar dan teras dalam, suhu 6000° C., kaya dengan nikel dan besi, tekanan tinggi

Jika kita lihat suhu di dalam bumi serta tekanan yang tinggi, maka sebenarnya di bahagian mana pun kita tinggal, kita tidak selamat. Ibarat telor di hujung tanduk itulah, jika terjatuh, pasti pecah. Kerak bumi itu ibarat kulit telor sahaja jika diukur dengan ketebalan bahagian mantel dan teras.Dalam bumi ini pula arus perolakan sentiasa berlaku dan berusahah mahu bebas menolak lapisan kerak bumi yang tidak stabil lalu terjadi lah gegaran dan gempa bumi.

Gempa bumi, adalah suatu fenomena pergerakan permukaan bumi disebabkan oleh pergerakan yang mengejut di permukaan bumi yang berbatu. Gempa bumi berlaku apabila tenaga yang tersimpan dalam bumi, biasanya di dalam bentuk geseran batu, tiba-tiba terlepas.

Gempa bumi diukur dengan menggunakan alat yang dipanggil Skala Richter. Gempa bumi ini boleh digredkan satu hingga sembilan berdasarkan saiznya berdasarkan skala Richter. Gempa bumi juga boleh diukur dengan menggunakan ukuran Skala Mercalli. Gegaran sering berlaku tetapi tidak semua di antara gegaran itu kuat untuk membolehkan kita merasainya.

Tenaga ini disalurkan ke permukaan bumi menyebabkan gelombang gempa bumi. Kajian sains mengenai gempa bumi dan gelombangnya dikenali sebagai seismologi (dari perkataan Greek seismos, untuk menggoncang).


Waktu Gempa Bumi sama dengan ayat dan surah dalam Al-Quran 
Gempa di Padang jam 17.16, gempa susulan 17.58, esoknya gempa di Jambi jam 8.52. Coba lihat Al-Qur’an!” demikian bunyi pesan singkat yang beredar. Siapa pun yang membuka Al-Qur’an dengan tuntunan pesan singkat tersebut akan merasa kecil di hadapan Allah Swt. Demikian ayatayat Allah Swt tersebut:

17.16 (QS. Al Israa’ ayat 16): “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”
17.58 (QS. Al Israa’ ayat 58): “Tak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya) , melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuz).”
8.52 (QS. Al Anfaal: 52): "(Keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutny a serta orang-orang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Amat Keras siksaan-Nya.”
Tiga ayat Allah Swt di atas, yang ditunjukkan tepat dalam waktu kejadian tiga gempa kemarin di Sumatera, berbicara mengenai azab Allah berupa kehancuran dan kematian, dan kaitannya dengan hidup bermewah-mewah dan kedurhakaan, dan juga dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutny a. Ini tentu sangat menarik.
Semoga penerangan ini bermanafaat untuk renungan kita bersama, adakah mahu terus leka atau mula untuk mengabdikan diri kepada Allah SWT. Kita di Malaysia semestinya berasa bersyukur kerana kita di jauhi dari gempa bumi yang sentiasa melanda negara jiran kita Indonesia.

____________________________________________________________

25 September 2009

PUASA ENAM SYAWAL

Dua jenis amalan menentukan peribadi seseorang Muslim iaitu amalan wajib dan amalan sunat. Wajib bermaksud sesuatu yang dituntut untuk melakukannya dan berdosa jika ditinggalkan seperti solat fardu, puasa pada Ramadan dan membayar zakat.

Sunat pula bermaksud sesuatu yang dianjurkan untuk melakukannya dan tidaklah berdosa jika ditinggalkan. Antara contoh amalan sunat ialah solat, mengucapkan amin apabila membaca fatihah dalam solat dan banyak lagi.

Walaupun meninggalkan amalan sunat tidaklah menyebabkan berdosa, ia adalah amalan sangat disukai Allah.

Abu Hurairah meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW bersabda bermaksud: "Sesungguhnya Allah berfirman yang maksudnya: "Sesiapa yang memusuhi wali-Ku, maka sesungguhnya aku mengisytiharkan perang terhadapnya. Dan tiada seorang hamba-Ku yang bertaqarrub (beramal) kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai hanya dari ia menunaikan semua yang Aku fardukan ke atas dirinya. Dan hendaklah hamba-Ku sentiasa bertaqarrub dirinya kepada-Ku dengan nawafil (ibadat sunat) sehingga Aku mencintainya. Maka apabila Aku telah mencintainya, nescaya adalah Aku sebagai pendengarannya yang ia mendengar dengannya, dan sebagai penglihatannya yang ia melihat dengannya, dan sebagai tangannya yang ia bertindak dengannya, dan sebagai kakinya yang ia berjalan dengannya. Dan jika ia meminta kepada-Ku nescaya Aku berikan kepadanya, dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku nescaya Aku lindungi." (Hadis riwayat Al-Bukhari)


Antara ibadat sunat yang amat digalakkan selepas puasa wajib Ramadan ialah puasa enam hari semasa Syawal. Persoalannya, bilakah waktu terbaik melakukannya, dan bagaimanakah cara untuk menunaikannya jika puasa wajib belum lagi diganti atau diqada?

Puasa enam hari pada Syawal sebenarnya amat besar ganjaran yang ditawarkan Allah. Ia disebut secara jelas oleh Rasulullah SAW.

Dilaporkan daripada Abu Ayyub al-Ansari bahawa Rasulullah SAW bersabda bermaksud: "Sesiapa berpuasa sepanjang Ramadan, kemudian diikuti dengan puasa enam hari Syawal, maka seakan-akan dia berpuasa selama satu tahun." (Hadis riwayat Muslim, Abu Dawud, An-Nasa'i dan Ibnu Majah)

Ini bermakna dengan berpuasa sunat selama enam hari pada Syawal selepas berpuasa wajib pada Ramadan, seolah-olah mereka berpuasa sepanjang tahun.

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: "Allah telah menggandakan setiap kebaikan dengan sepuluh kali ganda. Puasa Ramadan setara dengan berpuasa sebanyak sepuluh bulan. Dan puasa enam hari Syawal yang menggenapkannya satu tahun." (Hadis riwayat An-Nasa'i dan Ibnu Majah)

Hadis ini mempamerkan bahawa ganjaran diberikan Allah itu sepuluh kali ganda. Ini bermakna jika kita berpuasa selama 30 hari pada Ramadan, maka digandakan menjadi 300 hari, manakala puasa enam hari pada Syawal digandakan menjadi 60 hari. Ganjaran Allah adalah sebanyak 360 hari.

Persamaan yang lain, jika berpuasa selama sebulan pada Ramadan akan menyamai 10 bulan, kemudian diikuti puasa selama enam hari pada Syawal akan menyamai dua bulan. Justeru genaplah berpuasa selama setahun.

Ada dua pendapat ulama mengenai hal ini. Majoriti ulama berpendapat, puasa enam dilakukan secara berturut-turut selepas Hari Raya. Ia dimulai pada hari raya kedua dan seterusnya sehingga genap enam hari. Sebahagian ulama pula berpendapat puasa enam itu boleh dilakukan secara berselang-seli atau tidak terus menerus sepanjang Syawal.

Justeru, kita mempunyai kebebasan untuk membuat pilihan sama ada melakukannya secara berturut-turut ataupun berselang seli.

Bagaimanakah pula kaedah menunaikan puasa sunat pada Syawal jika puasa Ramadan masih belum diganti atau qada? Persoalan itu juga mempunyai beberapa pandangan. Pendapat pertama mengatakan adalah memadai seseorang yang ingin melakukan puasa qada dan puasa enam dengan berniat hanya puasa qada pada Syawal. Mereka akan mendapat dua ganjaran sekali gus dengan syarat dia perlu berniat puasa qada terlebih dulu. Ini kerana puasa qada adalah wajib dan puasa enam adalah sunat.

Hal yang sama berlaku ke atas solat tahiyatul masjid. Jika seseorang memasuki masjid dan terus melakukan solat fardu, maka dia akan diberi ganjaran dua pahala sekali gus.

Pendapat kedua ialah jika seseorang melakukan kedua-duanya secara berasingan akan mendapat kelebihan di sisi Allah kerana sebagai seorang hamba yang tunduk kepada Allah, maka memperbanyakkan amalan taqarrub dengan memisahkan antara yang wajib dengan sunat lebih menunjukkan kesungguhan diri sebagai seorang hamba.

Ada juga ulama berpendapat bahawa puasa enam seharusnya didahulukan kerana ia hanya boleh diamalkan pada bulan Syawal saja. Bagi puasa qada, ia boleh dilakukan dalam tempoh 10 bulan berikutnya sebelum tibanya Ramadan akan datang.

Lakukan ibadat sunat ini sama ada berpuasa secara berturut-turut atau berselang-seli. Begitu juga dengan puasa qada. Lakukanlah sama ada secara digabungkan puasa enam dengan puasa qada ataupun secara berasingan.

Terpulanglah kepada diri kita sendiri berdasarkan kemampuan masing-masing. Hal ini kerana ganjaran ditawarkan Allah amat besar. Ia juga adalah tambahan kepada kekurangan yang diimbangi oleh zakat fitrah.
________________________________________________

18 September 2009

AIDILFITRI - Antara Ibadah dan Adat

Hari Raya Aidil Fitri akan menjelang kembali. Ia disambut berulang-ulang pada tiap-tiap tahun dan disyariatkan oleh Allah s.w.t. untuk Umat Islam merayakannya. Ianya disambut menandakan kesyukuran Umat Islam di atas kejayaan mereka melaksanakan fardu puasa sepanjang bulan Ramadan dan menandakan kemenangan mereka dalam perjuangan menahan hawa nafsu dari perkara-perkara yang ditegah di dalam bulan puasa.
Rasulullah pernah bersabda yang bermaksud: “Bagi orang yang berpuasa itu dua kegembiraan, pertama kegembiraan ketika mereka berbuka dan kedua kegembiraan mereka ketika bertemu dengan Tuhannya yang Maha Pemurah.”

Umat Islam merayakan Hari Raya ini dengan penuh kesyukuran dan dengan pelbagai jenis amal bakti yang diredai oleh Allah s.w.t. di antaranya sembahyang Hari Raya, ziarah menziarahi di antara sesama mereka, bersedekah dan lain-lain lagi.

Kemuliaan Aidil Fitri diterangkan oleh Allah di dalam Al-Quran dan oleh Rasulullah di dalam beberapa hadisnya. Oleh kerana itu kita Umat Islam amat digalakkan untuk menghidupkan Malam Hari Raya sama ada Hari Raya Puasa atau Hari Raya Korban. Sehubungan dengan ini Allah berfirman di dalam Al Quran, ertinya: “Dan supaya kamu cukupkan bilangan puasa sebulan Ramadhan dan supaya kamu membesarkan Allah dengan Takbir dan Tahmid serta Takdis kerana mendapat petunjukNya dan supaya kamu bersyukur.”

Kemuliaan Hari Raya juga diterangkan di dalam Hadis seperti sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud: Daripada Umamah r.a. bahawasanya Nabi Muhammad s.a.w. telah bersabda “Barangsiapa mengerjakan amal ibadah pada malam Hari Raya Aidilfitri dengan mengharapkan keredaan Allah semata-mata hatinya tidak akan mati pada hari kiamat sebagai matinya hati orang-orang kafir yang ingkar pada hari kiamat.”

Daripada hadis di atas dapatlah kita membuat kesimpulan bahawa Hari Raya satu perkara yang disyarakkan dalam Islam dan pada Hari Kiamat kelak orang-orang yang beriman dan beramal soleh hatinya hidup bahagia dan gembira kerana berjaya mendapat balasan yang baik dan keredaan Allah SWT hasil daripada amal-amal kebajikan yang mereka kerjakan di dunia seperti berpuasa di bulan Ramadhan. Sebaliknya orang yang kufur dan ingkar hatinya mati mereka hampa dan kecewa pada hari itu kerana dimurkai oleh Allah dan mereka ditimpa dengan seburuk-buruk balasan.

Terdapat juga hadis-hadis yang lain yang menceritakan tentang menghidupkan malam Hari Raya seperti hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tabrani r.a. yang bermaksud: “Barangsiapa menghayati malam Hari Raya Aidil Fitri dan malam Hari Raya Aidil Adha dengan amal ibadah sedang dia mengharapkan keredaan Allah semata-mata hatinya tidak akan mati seperti hati orang-orang kafir.”

Umat Islam digalakkan menyambut Hari Raya Aidil Fitri dengan tahmid sebagai bersyukur kepada Allah bersempena dengan hari yang mulia itu. Ini diterangkan di dalam Al-Quran dan juga di dalam hadis Rasulullah s.a.w. yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. Maksudnya :"Hiasilah Hari Raya kamu dengan Takbir dan Tahmid.” dan daripada Anas r.a.:"Hiasilah kedua-dua Hari Raya kamu iaitu Hari Raya Puasa dan juga Hari Raya Korban dengan Takbir, Tahmid dan Taqdis.”

Walaubagaimanapun kekeliruan terhadap Aidil Fitri di kalangan umat Islam menyebabkan hari ibadah sudah bertukar menjadi tradisi, hampir menyamai tradisi kaum lain yang menyambut hari raya mereka yang merupakan pesta atau majlis hiburan.

Marilah kita hidupkan malam Aidil Fitri dengan ibadah bukan dengan gelaktawa dan hiburan. Bergembira di hari raya selalu disalah ertikan. Kita sepatutnya gembira dengan menunjukkan kesyukuran dan membesarkan Allah dengan takbir dan tahmid. Bukan dengan muzik dan bunyian mercun.

Bagi meyambut hari kebesaran ini, ramai yang bertakbir tetapi tidak ramai yang berusaha menghayati lafaz-lafaz dalam takbir dan tahmid itu walaupun diulang-ulang setiap kali tibanya hari raya. Penghayatan dan kemanisan lafaz-lafaz itu tidak dapat dirasai.
Maksud takbir :

"Allah maha besar. Tiada tuhan melainkan Allah, kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya, dengan ikhlas untuk agama (Islam), walaupun dibenci oleh golongan yang menyekutukan Allah. "

"Tiada tuhan melainkan Allah Yang Esa yang benar janji-Nya, yang memuliakan tentera-tenteraNya (tentera Muslimin) yang menolong hamba-Nya (dengan) mengalahkan tentera Ahzab (tentera bersekutu yang diketuai oleh kaum musyrikin serta kaum Yahudi dan Nasrani) dengan keesaan-Nya."

"Tiada tuhan melainkan Allah yang Maha Besar Allah Yang Maha Besar dan untuk Allah-lah segala puji-pujian."

________________________________________________

16 September 2009

MAJLIS PENYERAHAN SUMBANGAN DAN BERBUKA PUASA

Pada 11 September 2009 bersamaan dengan 21 Ramadhan 1430H Pihak HIKMAH Bahagian Sibu telah mengadakan majlis penyerahan sumbangan kepada saudara kita di sekitar bandar Sibu dan majlis berbuka puasa. Majlis tersebut telah diadakan di dewan mini di Masjid An-Nur (Masjid Bahagian Sibu). Seramai 22 orang saudara kita yang layak menerima sumbangan tersebut dan sumbangan telah diserahkan oleh Pengerusi HIKMAH Bahagian Sibu encik Kameri Bin Meraf dan disaksikan oleh Pegawai Dakwah dari Ibu Pejabat HIKMAH Kuching iaitu Tuan Hj. Abd Rahman. Turut hadir pada majlis tersebut ialah Pengerusi HIKMAH Cawangan Sibu, encik Nur Azman Yaakub,pegawai HIKMAH zon tengah , Ust. Amir Bin Abdullah, daie HIKMAH Bahagian Kapit Ust. Fazli, AJK HIKMAH Bahagian / Cawangan Sibu dan guru-guru Tadika Islam NurulHidayah HIKMAH Sibu. Sumbangan tersebut merupakan sumbangan dari pihak ibu pejabat HIKMAH yang disalurkan kepada HIKMAH Bahagian Sibu untuk di agihkan kepada saudara kita yang layak demi meringankn beban mereka sempena dengan sambutan Hari Raya yang akan menjelma tidak lama lagi. Majlis tersebut diteruskan dengan berbuka puasa di Masjid An-Nur dan solat Magrib berjemaah.
_____________________________________________

08 September 2009

MALAM LAILATUL-QADAR

Malam Lailatul-Qadar sunat dicari, kerana malam ini merupakan suatu malam yang diberkati serta mempunyai kelebihan dan diperkenankan doa oleh Allah s.w.t . Malam Lailatul-Qadar adalah sebaik-baik malam mengatasi semua malam termasuk malam Jumaat.
Allah s.w.t berfirman dalam surah Al-Qadr : 3 :-
“Malam Lailatul-Qadar lebih baik daripada seribu malam”
Ertinya menghidupkan malam Lailatul-Qadar dengan mengerjakan ibadah adalah lebih baik daripada beribadah pada seribu bulan yang tidak ada Lailatul-Qadar seperti sabda Nabi s.a.w:-
“Sesiapa menghidupkan malam Lailatul-Qadar kerana beriman serta mencari pahala yang dijanjikan akan mendapat pengampunan daripada dosa-dosa yang telah lalu”
Diriwayatkan daripada Saiyidatina Aisyah r.a bahawa Rasulullah s.a.w apabila tiba 10 hari terakhir bulan Ramadhan, baginda menghidupkan malam-malamnya dengan membangunkan isi rumah dan menjauhi daripada isteri-isterinya.
Imam Ahmad dan Muslim meriwayatkan :
“Rasulullah s.a.w berusaha sedaya upaya dalam malam-malam sepuluh akhir Ramadhan melebihi usahanya daripada malam-malam lain”
Malam Lailatul-Qadar berlaku pada 10 akhir daripada malam ganjil bulan Ramadhan. Rasulullah s.a.w. Bersabda :-
“Carilah malam Lailatul-Qadar pada sepuluh akhir bulan Ramadhan dalam malam ganjil”
Pendapat yang kuat mengikut para ulama' bahawa malam Lailatul-Qadar adalah pada malam 27 Ramadhan. Menurut Abu Ka'ab katanya, “Demi Allah sesungguhnya Ibn Mas'ud telah meyakinkan bahawa malam Lailatul-Qadar jatuh dalam bulan Ramadhan manakala Lailatul-Qadar pula adalah pada malam 27 Ramadhan, akan tetapi dia enggan memberitahu kepada kami (malam yang tepat) kerana bimbangkan kamu tidak lagi berusaha mencarinya”.
Daripada riwayat Mu'awiayah :-
“Bahawa Nabi Muhammad s.a.w telah bersabda malam Lailatul-Qadar iaitu malam ke-27”
Riwayat ini disokong oleh pendapat Ibn Abbas yang menguatkan bahawa surah Al-Qadr mempunyai 30 perkataan. Perkataan yang ke-27 bagi surah itu jatuh kepada dhamir(hia) yang kembalinya kepada Lailatul-Qadar.
Imam Ahmad telah meriwayatkan sebuah hadith daripada Ibn Umar r.a :-
“Sesiapa yang mencari Lailatul-Qadar, dia hendaklah mencarinya pada malam yang ke-27, carilah kamu malam Lailatul-Qadar pada malam yang ke-27”
Aisyah r.a bertanya kepada Rasulullah, katanya, “Ya Rasulullah s.a.w andainya aku mendapati malam Lailatul-Qadar, apakah doa yang patut aku bacakan ? Rasulullah s.a.w lalu berdoa dengan doa :-
“Ya Allah, Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, oleh itu berilah keampunan-Mu untukku”.

Semoga dengan kedatangan 10 akhir Ramadhan tahun ini kita berusaha menambah amalan kita untuk mencari malam Lailatul-Qadar yang dijanjikan Allah kepada umatnya dengan pahala yang berlipat kali ganda.

___________________________________________

04 September 2009

NUZUL AL-QURAN

 Pada 07 September 2009 bersamaan dengan 17 Ramadhan 1430H adalah salah satu hari yang berlaku peristiwa penting dalam Islam. Peristiwa nuzul Al-Quran menjadi satu rakaman sejarah dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW hingga seterusnya berperingkat-peringkat menjadi lengkap sebagaimana kitab al-Quran yang ada pada kita hari ini.
Peristiwa Nuzul al-Quran berlaku pada malam Jumaat, 17 Ramadhan, tahun ke 41 daripada keputeraan Nabi Muhammad SAW. Perkataan ‘Nuzul’ bererti turun atau berpindah dari atas ke bawah. Bila disebut bahawa al-Quran adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW maka ianya memberi makna terlalu besar kepada umat Islam terutamanya yang serius memikirkan rahsia al-Quran.
‘Al-Quran’ bererti bacaan atau himpunan. Di dalamnya terhimpun ayat yang menjelaskan pelbagai perkara meliputi soal tauhid, ibadat, jinayat, muamalat, sains, teknologi dan sebagainya. Kalimah al-Quran, sering dicantumkan dengan rangkai kata ‘al-Quran mukjizat akhir zaman’ atau ‘al-Quran yang mempunyai mukjizat’. Malah inilah sebenarnya kelebihan al-Quran tidak ada satu perkara pun yang dicuaikan atau tertinggal di dalam al-Quran. Dengan lain perkataan segalanya terdapat di dalam al-Quran.
Firman Allah:
“Dan tidak seekor pun binatang yang melata di bumi, dan tidak seekor pun burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan mereka umat-umat seperti kamu. Tiada Kami tinggalkan sesuatu pun di dalam kitab Al-Quran ini; kemudian mereka semuanya akan dihimpunkan kepada Tuhan mereka (untuk dihisab dan menerima balasan).” (Al-An’am:38)
Al-Quran adalah hidayah, rahmat, syifa, nur, furqan dan pemberi penjelasan bagi manusia. Segala isi kandungan al-Quran itu benar. Al-Quran juga dikenali sebagai AL-Nur bererti cahaya yang menerangi, al-Furqan bererti yang dapat membezakan di antara yang hak dan batil dan al-Zikr pula bermaksud yang memberi peringatan.
Dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW ayat al-Quran yang mula-mula diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan malaikat Jibrail ialah lima ayat pertama daripada surah Al-‘Alaq. maksudnya:
“Bacalah (wahai Muhammad) dengan nama Tuhan mu yang menciptakan (sekalian makhluk), Ia menciptakan manusia dari sebuku darah beku; Bacalah, dan Tuhan mu Yang Maha Pemurah, -Yang mengajar manusia melalui pena dan tulisan, -Ia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-‘Alaq:1-5)
Semoga dengan kehadiran Nuzul Al-Quran tahun ini akan dapat menambahkan keimanan kita kepada Allah  dengan membaca dan mengamal apa yang terkandung dalamnya.

_______________________________________________

07 August 2009

RAMADAN YANG DI NANTIKAN


Assalamualaikum wrb.beberapa hari sahaja lagi kita umat Islam akan meyambut bulan ramadan,segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam yang tidak diragu kan lagi penciptaannya setiap mahluk di permukaan bumi, hanya kita saja yang sering lalai dan mudah lupa bahawasanya kita akan kembali menemuiNya dalam keadaan rela atau terpaksa.Saudara muslimin dan muslimat, dengan rahmat dan ehsan Allah yang maha penyayang Beliau masih meminjamkan sisa-sisa kehidupan kita yang sepatutnya kita tumpukan untuk beribadah kepada Nya dan mengajak setiap mahluk di permukaan bumi ini tunduk dan patuh kepada Allah,namun sayang,kebanyaknyakan nya manusia sering tersilau dengan kegemerlapan sinar patamorgana dunia yang kenikmatannya amat di maklumi hanya sementara.....

NAH!!!!! RAMADAN MENJELANG KEMBALI.. Mari lah kita sama-sama menadah tangan yang begitu kerdil dan tiada nilai di sisi Allah ini semoga dengan rahmat inayah Allah yang tiada tandingan kekuasaan Nya memohon agar RAMADAN ini dapat menjadikan titek permulaan semula ketundukan dan ketaqwaan kita agar menjadi muslim yang kamil dan terus istiqomah dengan iman...


Kesempatan ini juga kami dari HIKMAH SIBU mengucapkan selamat menyambut RAMADAN AL-MUBARAK kepada semua pembaca blog Hikmah Sibu.

04 June 2009

MeRaSaI KeMaNisAn IMAN....



Dalam kehidupan setiap umat telah diberikan nikmat iman oleh Allah swt. Dalam mencari kedamaian dan keharmonian hidup seharian,sebagai umat Islam kita mestilah mempunyai prinsip yang murni dan sihat. Tingkatan kenikmatan dan kemanisan iman yang dikecapi oleh seseorang bergantung kepada prinsip hidupnya iaitu kasih kepada Allah dan Rasul-Nya mengatasi segala-galanya disamping kasih kepada manusia,dengan tujuan menuntut keredhaan Allah dan benci kepada kekufuran.


Sebagai manusia yang beriman,perkara kekufuran tidak seharusnya berlaku dalam kehidupan di dunia ini.Manusia yang tidak beriman akan selalu lupa kepada nikmat ciptaan Allah terhadapnya. Manusia yang tidak bersyukur akan menjadi kufur dan lupa akan tujuan mereka dihidupkan di dunai ini sebagai khalifahNya. Rasulallah saw menjelaskan dalam sabdanya yang bermaksud:


”Tiga perkara menyebabkan terasa kemanisan iman,Allah dan Rasul-nya hendaklah dicintai lebih daripada yang lain,mencintai manusia kerana Allah semata-mata dan benci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya seseorang jika dicampakkan ke dalam api neraka”(Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)


Begitu tingginya tahap kemanisan iman yang harus dicapai setiap umat Islam. Mukmin tersebut akan merasai betapa bahagianya hidup menjadi umat Islam yang beriman dan berada dalam ketenangan dan kedamaian,merasai keinginan dan kelazatan lidahnya dengan berzikir mengingati Allah swt. Al-Quran pula sebagai petunjuk yang sentiasa mendidik dan memberi pengajaran kepada semua manusia untuk dapat membentuk keimanan yang sempurna.


Pendidikan iman manusia diterapkan sejak manusia mengenal perkara baik dan buruk. Iman mendidik manusia mengenal dan meyakini adanya perkara-perkara ghaib yang wajib dipercayai melalui rukun iman seperti percaya kepada hari akhirat,qada dan qadar seta syariat Islam. Keimanan antara lain memberi keyakinan bahawa manusia memerlukan pertolongan Allah dalam segala urusan duniawi dan ukhrawi. Iman memberi peringatan mengenai hukum Allah dan kewajipan mentaatinya.


Iman mendidik manusia supaya mencintai Allah dan Rasulullah serta keluarganya(Ahlu Al-bait) dengan membiasakan diri dengan membaca al-quran. Iman memberi motivasi dengan semangat untuk terus tekun berusaha,supaya manusia tidak bergantung kepada takdir semata-mata untuk mencapai kejayaan hidup. Melalui iman yang mantap,ia akan mengingatkan manusia supaya tidak melupakan kepentingan hidup di akhirat ketika hidup di dunia ini. Firman Allah swt yang bermaksud;


”Dan carilah apa-apa yang dikurniakan Allah kepada(kebahagiaan)akhirat dan janganlah kamu melupakan kebahagian dari(nikmat)dunia dan berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik terhadapMu” (Al-Qasas:77)


Iman merupakan faktor paling penting yang mendidik dan membentuk sahsiah manusia yang teguh dan berakhlak mulia,berakal budi murni serta memperlihatkan teladan yang baik.