18 September 2008

LaILaTuL QaDar..................


Bacaan surah Lailatul Qadar berkumandang di setengah-tengah masjid apabila masuknya malam yang ke 15 Ramadhan. Ada juga dikalangan mereka cuba mentafsirkan semula surah ini dengan mengatakan Lailatul Qadar hanya datang sekali sahaja, iaitu semasa penurunan al-Quran. Dikalangan umat Islam juga mempunyai pandangan yang berbeza mengenai apa yang akan berlaku atau apa yang harus dilakukan pada malam al-Qadar ini. Syiekh Dr Yusuf al-Qaradhawi telah menjelaskan mengenai persoalan samada Lailatul Qadar itu dikhaskan untuk orang-orang tertentu sahaja atau kepada kesemua umat Islam secara umumnya, iaitu mereka yang mendirikan malam pada hari berlakunya peristiwa tersebut.
Apakah Lailatul Qadar bersifat khusus atau umum? (هل هي ليلة عامة أو خاصة ؛)
Diantara perkara yang dibahaskan ulama' disini adalah : apakah Lailatul Qadar dikhususkan kepada beberapa orang (tertentu sahaja), lalu menzahirkan kepadanya melihat alamat-alamat, atau melihatnya didalam mimpi, atau ada karamah luarbiasa yang terjadi, dan tidak berlaku kepada orang lain? Atau ia merupakan satu malam yang bersifat umum kepada kesemua orang Islam, sehingga hasil pahala dapat dikecapi bersama kepada sesiapa yang melakukan solat / qiam pada masa itu, walaupun tidak dizahirkan apa-apa alamat sekalipun? Maka kebanyakkan ulama telah memilih pandangan kedua, bersandarkan hadith Abu Hurairah ra.:
من يقم ليلة القدر فيوافقها.. "Barangsiapa yang berqiam pada malam Lailatul Qadar maka dia telah menjumpainya..." [Hadith Riwayat Muslim]. Begitu juga dengan hadith A'isyah ra. :- رأيت يا رسول الله إن وافقت ليلة القدر ما أقول؟ فقال: قولي: اللهم إنك عفوٌّ تحب العفو فاعفُ عني "Apa pendapat kamu Ya Rasulullah jika aku berjumpa dengan Lailatul Qadar dan apa yang hendak aku ucapkan? Jawab baginda : Katakanlah : Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Tuhan yang memberi kemaafan, Engkau mencinta kemaafan, maka maafkanlah aku" [Hadith Riwayat Ibn Maajah dan Imam al-Timudzi]. Maka mereka mentafsirkan perkataan 'menjumpai' atau al-muwaafaqah (الموافقة) dengan maksud 'mengetahuinya', dan ini lah merupakan syarat untuk mendapatkan pahala, ia itu khusus dengannya (dengan 'al-Muwaafaqah'). Ulama' lain memilih makna menjumpainya : iaitu pada diri sendiri, walaupun tidak mengetahuinya, kerana sesungguhnya bukanlah menjadi syarat akibat dari melihat sesuatu atau mendengarnya, sebagaimana yang diperkatakan oleh Imam al-Thabari. Ada beberapa kalam ulama' yang meletakkan syarat perlu mengetahui Lailatul Qadar telah menjadi sebab kebanyakan orang awam beritiqad bahawa Lailatul Qadar adalah cahaya yang kuat yang dibuka kepada beberapa orang dengan mendapat kegembiraan, dan sebahagian lain tidak mendapatnya. Maka timbullah orang berkata : Si Fulan telah mendapat Lailatul Qadar. KESEMUA INI TERMASUKLAH PERKARA YANG TIDAK DIDASARKAN DENGAN DALIL YANG JELAS DARI SYARA'. Maka Lailatul Qadar itu bersifat UMUM kepada seluruh umat Islam yang menunggunya, mencari kebaikkan dan ganjarannya, serta apa yang disisi Allah, iaitu malam ibadat dan ketaatan, dengan melakukan Solat, Tilawah al-Quran, berdo'a, melakukan sedekah, menjalinkan silatul rahim, dan segala perbuatan yang baik. Paling sedikit seseorang Islam itu boleh lakukan pada malam itu adalah : bersolat Isya' berjemaah, dan solat Subuh berjemaah, kerana kedua-duanya menyerupai Qiamullail. Didalam sebuah hadith sahih Nabi :saw bersabda : من صلى العشاء في جماعة، فكأنما قام نصف الليل، ومن صلى الصبح في جماعة، فكأنما صلى الليل كله "Barangsiapa yang bersolat Isya' berjemaah, maka seolah-olah dia telah bersolat separuh malam, dan barangsiapa bersolat Subuh berjemaah, maka seolah-olah dia telah bersolat sepenuh malam" [Hadith Riwayat Ahmad dan Muslim dengan lafaznya, dari hadith Uthman, Sahih al-Jaami' al-Shaghir #6341]. Maksudnya 'barangsiapa yang telah bersolat Subuh', iaitu setelah menunaikan solat Isya', dan diperjelaskan didalam sebuah hadith riwayat Abu Daud dan Imam al-Tirmudzi :- من صلى العشاء في جماعة كان كقيام نصف ليلة، ومن صلى العشاء والفجر في جماعة كان كقيام ليلة "Barangsiapa bersolat Isya' berjemaah, seakan-akan dia bersolat separuh malam, dan barangsiapa yang bersolat Isya' dan Fajar berjemaah, seakan-akan dia telah melakukan Qiamullail" [Rujukan seperti diatas, hadith #6342]. Terjemahan dari buku : Syeikh Dr Yusuf al-Qaradhawi. Fiqh al-Shiyaam. Beirut : Muaasasah al-Risalah, 2001. ms 133.

15 September 2008

Program Iftar Jamaie dan qiamulail



Hikmah Bahagian dan cawangan Sibu akan mengada kan Iftar dan Qiamulail seperti berikut:

Tarikh : 20 sept 2008 ( sabtu mlm ahad )
Tempat : Tadika Islam Nurulhidayah (HIKMAH) jalan Kaka Sibu.


tentatif program :

6.00pm : kehadiran
6.30pm : Maljis Iftar Jamaie
7.00pm : Solat maghrib berjemaah
7.30pm : zikir mathur
8.00pm : Solat Isya' dan Solat terawih
9.00pm : Majlis khatam Quran
3.3oam: Qiamulail
4.30am: Bersahur
5.10am.solat Subuh
5.45am. Zikir Mathur
6.15 Kuliah Subuh
selesai


Dengan Segala Hormat nya Semua Ahli Jawatan Kuasa dan Ahli-Ahli HIkmah Cawangan dan Bahagian ada di jemput hadir

06 September 2008

sEbUaH dIaLoG SeLePaS MaLaM


"Akhi, dulu ana merasa semangat saat aktif dalam dakwah.Tapi, belakanganrasanya semakin terasa hambar. Ukhuwah makin kering, bahkan ana melihatternyata banyak ikhwah banyak pula yang aneh-aneh." Begitu keluh kesahseorang mad'u(murid) kepada murabbi(guru) nya di suatu malam.Sang murabbi hanya terdiam, mencoba terus menggali semua kecamuk dalamdiri mad'u-nya. "Lalu apa yang ingin antum(kamu) lakukan setelahmerasakan semua itu?" Sahut sang murrabi setelah sesaat termenung."Ana ingin berhenti saja, keluar dari tarbiyah ini. Ana kecewa denganperilaku beberapa ikhwah yang justru tidak islami. Juga denganorganisasi dakwah yang ana geluti; kaku, dan sering mematikan potensianggota-anggotanya. Bila begini terus, ana lebih baik sendiri saja."Jawab ikhwah itu.Sang murabbi termenung kembali. Tak tampak raut terkejut dari romanwajahnya. Sorot matanya tetap terlihat tenang, seakan jawaban itumemang sudah diketahuinya sejak awal. "Akhi, bila suatu kali antum naiksebuah kapal mengarungi lautan luas. Kapal itu ternyata sudahbobrok.Layarnya banyak berlubang, kayunya banyak yang keropos, bahkankabinnya bau kotoran manusia. Lalu apa yang antum lakukan untuk tetapsampai pada tujuan?" Tanya seorang murabbi dengan kiasan bermakna dalam.Sang mad'u terdiam berpikir.Tak kuasa hatinya mendapat umpan baliksedemikian tajam dengan kiasan yang amat tepat."Apakah antum memilih untuk terjun ke laut dan berenang sampai tujuan?"Sang murabbi mencoba memberi opsi. "Bila antum terjun ke laut, sesaatantum akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasakankesegaran air laut, atau bebas bermain dengan lumba-lumba. Tapi ituhanya sesaat. Berapa kekuatan antum untuk berenang sampai tujuan?Bagaimana bila hiu datang? Dari mana antum mendapat makan dan minum?Bila malam datang bagaimana antum mengatasi hawa dingin?"Serentetan pertanyaan dihamparkan dihadapan sang ikhwah tersebut.Tak ayal, sang ikhwah menangis tersedu. Tak kuasa hatinya menahankegundahan sedemikian. Kekecewaannya kadang memuncak, namun sang murobbiyang dihormatinya justru tak memberi jalan keluar yang sesuai dengankeinginannya."Akhi, apakah antum masih merasa bahwa jalan dakwah adalah jalan yangpaling utama menuju ridho ALLAH SWT?" Pertanyaan yang menohok inimenghujam jiwa sang ikhwah. Ia hanya mengangguk." Bagaiman a bilaternyata mobil yang antum kendarai dalam menempuh jalan itu ternyatamogok? Antum akan berjalan kaki meninggalkan mobil itu tergeletak dijalan, atau mencoba memperbaikinya? " Tanya sang murabbi lagi.Sang ikhwah tetap terdiam dalam seunggukan tangis perlahannya. Tiba-tibaia mengangkat tangannya; "Cukup akhi, cukup. Ana sadar. Maafkan ana,InsyaALLAH ana akan tetap istiqomah. Ana berdakwah bukan untuk mendapatmedali kehormatan. Atau agar setiap kata-kata ana diperhatikan."Biarlah yang lain dengan urusan pribadi masing-masing. Biarlah anatetap berjalan dalam dakwah. Dan hanya ALLAH saja yang akanmembahagiakan ana kelak dengan janji-janji- NYA. Biarlah segalakepedihan yang ana rasakan jadi pelebur dosa-dosa ana." Sang mad'uberazzam dihadapan sang murabbi yang semakin dihormatinya.Sang murabbi tersenyum. "Akhi, jama'ah ini adalah jama'ah manusia.Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan. Tapi dibalikkelemahan itu, masih amat banyak kebaikan yang mereka miliki. Merekaadalah pribadi-pribadi yang menyambut seruan Allah untuk berdakwah.Dengan begitu mereka sedang berproses menjadi manusia terbaik pilihanALLAH SWT.""Bila ada satu dua kelemahan dan kesalahan mereka, janganlah hal itumendominasi perasaan antum. Sebagaimana ALLAH Ta'ala menghapus dosamanusia dengan amal baik mereka, hapuslah kesalahan mereka di mata antumdengan kebaikan-kebaikan mereka terhadap dakwah selama ini. Karena dimata ALLAH, belum tentu antum lebih baik dari mereka.""Futur, mundur, atau bahkan berpaling menjadi lawan bukanlah jalan yangmasuk akal. Apabila setiap ketidakkesepakatan selalu disikapi denganjalan itu; maka apakah dakwah ini dapat berjalan dengan baik?"Sambungnya panjang lebar."Kita bukan sekedar pengamat yang hanya bisa berkomentar. Atau hanyapandai menuding-nuding sebuah kesalahan. Kalau hanya itu orang kafir punbisa melakukannya. Tapi kita adalah da'i. Kita adalah khalifah. Kitalahyang diserahi amanat oleh ALLAH untuk membenahi masalah-masalah dimukabumi. Bukan hanya meng"ekspose" nya, yang bisa jadi justru semakinmemperuncing masalah."Sang mad'u termenung sampai merenungi setiap kalimat murabbinya.Azzamnya memang kembali menguat. Namun ada satu hal yang tetapbergelayut di hatinya. "Tapi bagaimana ana bisa memperbaiki organisasidakwah dengan kapasitas ana yang lemah ini?"Sebuah pertanyaan konstruktif akhirnya muncul juga."Siapa bilang kapasitas antum lemah? Apakah ALLAH mewahyukan begitukepada antum? Semua manusia punya kapasitas yang berbeda. Namun tak adayang bisa melihat bahwa yang satu lebih baik dari yang lain!". Sahutsang murabbi."Bekerjalah dengan ikhlas. Berilah tausyiah dalam kebenaran, kesabarandan kasih sayang pada semua ikhwah yang terlibat dalam organisasi itu.Karena peringatan selalu berguna bagi orang yang beriman. Bila adasebuah isu atau gossip, tutuplah telinga antum dan bertaubatlah.Singkirkan segala bakhil antum terhadap saudara antum sendiri. Denganitulah Bilal yang mantan budak hina menemui kemuliaanya. "Malam itu sang mad'u menyadari kesalahannya. Ia bertekad untuk tetapberputar bersama jama'ah untuk tetap mengarungi jalan dakwah.Kembalikan semangat itu saudaraku, jangan biarkan asa itu hilang,ditelan gersangnya debu yang menerpa. Biarlah itu semua menjadi saksisampai kita diberi dua kebaikan oleh ALLAH SWT : Kemenangan atau MatiSyahid.Ikhlas adalah ruh dari setiap amal. Ikhlas adalah motivasi yang kuatagar amal kita tetap terjaga berlanjut, tidak usang karena kepanasan dantidak luntur karena kehujanan,tidak ghurur karena pujian, dan tidakprustasi karena cacian. Terus bergerak kearah tujuan yang paling puncakdari cita-cita. Melihat sesuatu yang paling indah dibalik setiap amal,selalu mampu menghadirkan sang Kholiq yang tak pernah salah dalammenilai.(DR. M Adih Amin, M. Dosen STAI BANI SALEH)

30 August 2008

Adab Berbuka Menurut Sunnah Rasulullah

Adab Berbuka Puasa - Menurut Sunah Rasulullah S.A.W.Posted on Aug 29, 2008 under Ibadat
ADAB-adab berhubung ibadat mestilah merujuk kepada ajaran yang ditunjuk oleh Allah s.w.t. dan Rasulullah s.a.w., iaitu al-Quran dan sunah. Ada sebahagian pihak yang cenderung mencipta adab-adab ibadah tanpa merujuk kepada dua sumber agung itu, misalnya dakwaan yang menyatakan makruh mandi terlalu kerap, atau mandi pada hampir waktu berbuka kerana ia boleh mengurangkan keletihan dan sekali gus menghilangkan kelebihan puasa.
Sedangkan di dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Malik di dalam al-Mawata’, Ahmad dan Abu Daud di dalam sunannya, Abu Bakar bin Abd al-Rahman meriwayatkan:
“Telah berkata sahabat yang menceritakan kepadaku: “Aku melihat Rasulullah s.a.w. di al-`Arj (nama tempat) mencurahkan air ke atas kepala Baginda ketika Baginda berpuasa disebabkan dahaga atau panas.”
Dengan itu Ibn Qudamah al-Maqdisi (meninggal 620H) menyatakan:
“Tidak mengapa seseorang mencurahkan air ke atas kepalanya (ketika puasa) disebabkan panas atau dahaga kerana diriwayatkan oleh sebahagian sahabat bahawa mereka melihat Rasulullah s.a.w. di al-`Arj (nama tempat) mencurahkan air ke atas kepala Baginda ketika Baginda berpuasa disebabkan dahaga atau panas.”
(Ibn Qudamah al-Maqdisi, al-Mughni, 2/18, cetakan Dar al-Fikr, Beirut).
Yang penting di dalam bulan Ramadan ini adalah adab-adab yang kita kaitkan dengan ibadah puasa mestilah mempunyai asas yang boleh dipegang, iaitu al-Quran atau sunah. Antara adab-adab berbuka puasa yang dinyatakan di dalam hadis:
Menyegerakan berbuka apabila masuknya waktu atau disebut ta’jil al-Iftar. Ini berdasarkan hadis-hadis yang menyebut perkara ini, antaranya: Daripada Sahl bin Sa`ad bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Manusia sentiasa dalam kebaikan selagi mereka menyegerakan berbuka puasa.”
(Riwayat Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menerangkan punca kebaikan di dalam agama ialah mengikut sunah Nabi s.a.w., iaitu Baginda menyegerakan berbuka puasa. Ini menolak dakwaan ajaran-ajaran karut yang kononnya melewatkan berbuka menambah pahala. Kata at-Tibi (meninggal 743H):
“Barangkali sebab Allah menyukai mereka yang bersegera membuka puasa, ialah kerana apabila seseorang berbuka puasa sebelum solat, membolehkannya menunaikan solat dengan dihadirkan hati. Juga ia menyanggahi ahli bidaah yang berpendapat wajib melewatkannya.”
(at-Tibi, Syarh Miskhat al-Masabih, 4/183, cetakan Dar al-Kutub al-`Ilmiyyah, Berut).
Berbuka puasa dengan rutab, atau tamar atau air. Rutab ialah buah kurma yang telah masak sebelum menjadi tamar kering, ia lembut dan manis. Adapun tamar ialah buah kurma yang sudah kering. (lihat: al-Mu’jam al-Wasit 1/88). Sekarang di negara kita rutab sudah mula dikenali. Ia kurma yang masak dan masih lagi belum kering dan mengecut. Apabila ia mengecut dipanggil tamar. Di dalam hadis daripada Anas katanya:
“Bahawa Rasulullah s.a.w. berbuka puasa dengan beberapa biji rutab sebelum bersolat. Sekiranya tiada rutab, maka dengan beberapa biji tamar, dan sekiranya tiada tamar, maka Baginda minum beberapa teguk air.”
(Riwayat Imam Ahamd dan Tirmizi, katanya hadis ini hasan) Al-Diya al-Maqdisi (meninggal 643H) telah mensahihkan hadis ini. (lihat: al-Ahadith al-Mukhtarah, 4/411 cetakan: Maktabah al-Nahdah al-Hadithah, Mekah).
Inilah tertib yang dilakukan oleh Baginda, pilihan pertama ialah rutab, jika tiada tamar dan jika tiada air. Kata al-Mubarakfuri (meninggal 1353H):
“Hadis ini menjadi dalil disunatkan berbuka puasa dengan rutab, sekiranya tiada, maka dengan tamar, dan sekiranya tiada, maka dengan air. Adapun pendapat yang menyatakan di Mekah disunatkan didahulukan air zam-zam sebelum tamar, atau mencampurkan tamar dengan air zam-zam adalah ditolak. Ini kerana ia menyanggahi sunah. Adapun Nabi telah berpuasa (di Mekah) banyak hari pada tahun pembukaan kota Mekah, namun tidak pernah diriwayatkan baginda menyalahi adat kebiasaannya mendahulukan tamar sebelum air.”
(al-Mubarakfuri, Tuhfah al-Ahwazi, 3/311, cetakan Dar al-Kutub al-`Ilmiyyah, Beirut). Di samping itu, dakwaan jika tiada tamar, maka dengan buah-buahan yang lain juga tiada sebarang dalil daripada sunah Nabi s.a.w.
Menyegerakan solat Maghrib selepas berbuka dengan tamar atau air, sekiranya makanan belum dihidangkan. Hadis yang kita nyatakan di atas menunjukkan Baginda Nabi s.a.w. berbuka dengan rutab atau tamar atau air sebelum bersolat Maghrib. Maka kita disunatkan juga mengikuti langkah tersebut, iaitu selepas berbuka dengan perkara-perkara tadi, lantas terus menunaikan solat. Ini sekiranya makanan belum dihidangkan. Adapun sekiranya makanan telah dihidangkan di depan mata, maka dimakruhkan meninggalkan makanan untuk menunaikan solat. Ini berdasarkan apa yang dinyatakan dalam hadis-hadis baginda Nabi s.a.w. antaranya: Daripada Anas bin Malik r.a.: Bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Apabila telah dihidangkan makan malam, maka mulakanlah ia sebelum kamu menunaikan solat Maghrib, dan jangan kamu tergopoh-gapah ketika makan malam kamu.”
(Riwayat Bukhari dan Muslim).
Dalam hadis yang lain daripada Abdullah bin Umar, Baginda s.a.w. bersabda:
“Apabila dihidangkan makan malam seseorang kamu, sedangkan solat (jamaah) telah didirikan, maka mulailah dengan makan malam. Janganlah dia tergopoh-gapah sehinggalah dia selesa.”
(Riwayat Bukhari dan Muslim).
Riwayat di atas juga menambah:
Bahawa Ibn Umar r.a. apabila dihidangkan untuknya makanan, manakala solat pula sedang didirikan, maka beliau tidak mendatangi solat melainkan hingga beliau selesai makan, sedangkan beliau mendengar bacaan imam. Ini kerana meninggalkan makanan dalam keadaan keinginan yang kuat untuk menjamahnya atau dalam perasaan lapar, boleh menghilangkan khusyuk di dalam solat, disebabkan ingatan terhadap makanan tersebut. Dengan itu para ulama menyatakan dimakruhkan solat setelah makanan terhidang di hadapan mata. Kata an-Nawawi (meninggal 676H): Di dalam hadis-hadis tersebut dimakruhkan solat apabila terhidangnya makanan yang hendak dimakan kerana ia boleh mengganggu hati dan menghilangkan kesempurnaan khusyuk.
(An-Nawawi, Syarh Sahih Muslim, 4/208, cetakan: Dar al-Khair, Beirut).
Sebenarnya bukan pada makan malam atau solat Maghrib sahaja kita disunatkan mendahulukan makanan yang dihidang sebelum solat, bahkan sunah ini meliputi semua solat dan waktu makan kerana dibimbangi menghilangkan khusyuk. Ini sekiranya makanan telah terhidang di depan mata. Al-Munawi (meninggal 1031H) pula menyebut:
“Hadis tersebut menyatakan hendaklah didahulukan makan malam sebelum solat Maghrib. Namun ia juga dipraktikkan juga pada solat-solat yang lain. Ini kerana punca arahan ini ialah bimbang hilangnya khusyuk.”
(al-Munawi, Faidh al-Qadir, 1/295, cetakan: al-Maktabah al-Tijariyyah al-Kubra, Mesir).
Malangnya ada di kalangan yang kurang faham, lalu mereka menyatakan bahawa kalau azan sudah berkumandang, hidangan dan makanan hendaklah ditinggalkan demi mengutamakan solat jemaah. Inilah kedangkalan meneliti hadis-hadis Nabi s.a.w., lalu mengandaikan agama dengan emosi sendiri.
Adapun sekiranya makanan belum terhidang atau perasaan keinginan terhadap makanan tiada, maka tidaklah dimakruhkan untuk terus solat. Ini bukanlah bererti kita disuruh mementingkan makanan melebihi solat, sebaliknya tujuan arahan Nabi s.a.w. ini ialah untuk memastikan kesempurnaan solat. Al-Imam Ibn Hajar al-`Asqalani (meninggal 852H) memetik ungkapan Ibn Jauzi (meninggal 597H):
“Ada orang menyangka bahawa mendahulukan makanan sebelum solat adalah bab mendahulukan hak hamba ke atas hak Tuhan. Sebenarnya bukan demikian, tetapi ini adalah menjaga hak Allah agar makhluk masuk ke dalam ibadahnya dengan penuh tumpuan. Sesungguhnya makanan mereka (para sahabat) adalah sedikit dan tidak memutuskan mereka daripada mengikuti solat jemaah.”
(Ibn Hajar al-`Asqalani, Fath al-Bari, 2/385, cetakan: dar al-Fikr, Beirut).
Makan dengan kadar yang tidak berlebihan ketika berbuka. Ini bertepatan dengan firman Allah s.w.t. maksudnya:
Dan makan dan minumlah kamu, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Dia tidak suka orang yang berlebih-lebihan.
(Surah al-`Araf:31).
Di dalam hadis Baginda s.a.w. menyebut:
“Anak Adam itu tidak memenuhi suatu bekas yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam itu beberapa suap yang dapat meluruskan tulang belakangnya (memberikan kekuatan kepadanya). Sekiranya tidak dapat, maka satu pertiga untuk makanan, satu pertiga untuk minuman dan satu pertiga untuk pernafasan.”
(Riwayat Tirmizi, katanya: hadis ini hasan sahih. Al-Hafiz Ibn Hajar al-`Asqalani dalam Fath al-Bari menyatakan hadis ini hasan).
Hadis ini salah difahami oleh sesetengah pihak, lalu mereka menyangka Nabi s.a.w. menyuruh umatnya jika makan, hendaklah satu pertiga untuk makanan, satu pertiga untuk minuman dan satu pertiga untuk pernafasan. Sebenarnya jika kita teliti hadis ini bukan demikian, pembahagian tersebut ialah had maksimum. Kalau boleh kurang daripada itu. Sebab itu Baginda menyebut jika tidak dapat, maka tidak melebihi pembahagian tadi. Namun yang lebih utama digalakkan sekadar yang dapat memberi tenaga.
Berdoa ketika berbuka. Ini berdasarkan hadis Nabi s.a.w.:
“Sesungguhnya bagi orang berpuasa itu, doa yang tidak ditolak ketika dia berbuka.”
(Riwayat Ibn Majah, sanadnya pada nilaian hasan dan ke atas. Ishaq bin ‘Abd Allah al-Madani dithiqahkan oleh Abu Zur’ah dan disebut saduq oleh al-Zahabi dalam al-Kasyif ).
Maka kita boleh berdoa dengan apa sahaja doa yang kita hajati. Doa orang berpuasa makbul disebabkan jiwa yang telah dibersihkan daripada kotoran dosa dan syahwat. Justeru itu al-Munawi menyebut:
”Hadis di atas hanya untuk sesiapa yang telah menunaikan tanggungjawab puasa dengan menjaga lidah, hati dan anggota.”
(Faidh al-Qadir, 2/500).
Di sana ada doa yang ditunjukkan oleh Nabi s.a.w. ketika berbuka dan disunatkan kita membacanya:
“Adalah Rasulullah s.a.w. apabila berbuka, Baginda bersabda: Telah hilanglah dahaga, telah basahlah peluh (hilang kekeringan) dan telah tetaplah pahala, insya-Allah.”
(Riwayat Abu Daud, sanadnya hasan)
Namun setiap orang yang menunaikan puasa dengan sepenuhnya, hendaklah merebut peluang doa yang makbul ketika dia berbuka.
Berdoa kepada sesiapa yang menjamu kita berbuka, kata Anas r.a.:
“Baginda s.a.w. pernah datang kepada (rumah) Saad bin Ubadah. Dia menghidangkan roti dan minyak. Baginda pun makan dan bersabda: Telah berbuka puasa di sisi kamu mereka yang berpuasa, telah makan makanan kamu mereka yang baik dan telah berselawat ke atas kamu para malaikat.”
(Riwayat Abu Daud, Diya al-Maqdisi dalam Al-Ahadith al-Mukhtarah menyatakan ia sahih 5/158). Maka berdoalah kepada mereka yang menjamu kita berbuka puasa. Ini adab yang sangat baik.
Demikian senarai adab-adab yang terkandung di dalam sunah Nabi s.a.w. ketika berpuasa. Semoga pengamalan adab-adab ini menambahkan lagi pahala puasa kita.
**Artikel yang dicadangkan untuk bacaan bersempena dengan Ramadhan ini ialah “Puasa Tidak Boleh Berpisah Dari Dalil Sunah”. Sila klik di sini untuk artikel tersebut

Andai Ini Ramadhan ku Yang Terakhir


Wahai insan, renunglah engkau akan nasib diriWahai qalbu, sedarkah engkau akan gerak hatiWahai aqal, terfikirkah engkau akan apa yang bakal terjadiAndai ini merupakan Ramadhan ku yang terakhir kali Buatku sekujur jasad yang bakal berlalu pergi Tatkala usia bernoktah di penghujung kehidupan duniawi Pabila tiba saat tepat seperti yang dijanji Ilahi Kematian...adalah sesuatu yang pasti.....Andai ku tahu ini Ramadhan terakhirTentu siangnya aku sibuk berzikir"a'la bizikrallahi tat mainnal qulub"[Bukankah dgn berzikir itu hati akan menjadi tenang..]Biarpun anak tekakku kering kehausan airTentu aku tak akan jemu melagukan syairRindu mendayu..Merayu...Kepada-NYA Tuhanku yang satu...Andai aku tahu ini Ramadhan terakhirTentu solatku dikerjakan di awal waktuSolat yang dikerjai...Sungguh khusyuk lagi tawadhu'Tubuh, minda, dan qalbu...bersatu memperhamba diriMengadap Rabbul Jalil...Menangisi kecurangan janji "innasolati wanusuki wamahyaya wamamati lillahirabbil 'alamin" [sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku, dan matiku...kuserahkan hanya kepada Allah Tuhan seru sekelian alam] Andai aku tahu ini Ramadhan terakhir Tidak akan aku persiakan walau sesaat yang berlaluSetiap masa tak akan dipersia begitu sajaDi setiap kesempatan juga masa yang terluangAlunan Al-Quran bakal ku dendang...bakal ku syairkanAndai ku tahu ini Ramadhan terakhirTentu malammu aku sibukkan dengan Berterawih...Berqiamullail...Bertahajjud...Mengadu...Merintih...Meminta belas kasih...."sesungguhnya aku tidak layak untuk ke syurga-MUtapi...aku juga tidak sanggup untuk ke neraka-MU"Oleh itu duhai Ilahi...Kasihanilah daku hamba-MU yang...Hina..Dhaif..Jahil..Lagi Banyak Dosa ini..Menikmati bulan yg dirindui oleh nabi dan sahabatNya..Moga setiap langkah ku zuhud kepada MU..Moga ku istiqamah di ramadhan ini.. ANDAI AKU TAHU INI RAMADHAN TERAKHIR………

12 August 2008

Rai kan Ramadhan 1429H ini bersama kami........



Hikmah Cawangan Sibu menjemput anda beramai-ramai ke Ceramah Ramdahan...
Tempat : Masjid Al-Muhajirin ,Kampung Usahajaya baru,jalan sentosa Salim,Sibu
Tarikh : 15.ogos 2008 ( hari Jumaat malam Sabtu) di antara Maghrib dan Isyak
Penceramah: Ustaz Mohd Ameer Redhuan Abdullah (Pegawai Hikmah Bahagian Sibu
Tajuk : Ramadhan yang di nanti dan Penghayatan

03 August 2008

Santai minda......

Ketenangan hanya ada bersama NYA....
Tidak ada tempat lebih baik di bumi ini selain rumah-rumah Allah yang dikenali sebagai masjid ataupun surau. Ini kerana di situlah terbit segala ketenangan yang diimpikan oleh segenap insaiaitu insan yang berusaha membentuk dirinya menjadi hamba Allah yang terbaik sepanjang hidup dengan amalan-amalan yang bersifat peribadatan hanya kepada-Nya.

Tidak ada tempat di bumi ini yang mampu menjanjikan ketenangan dan kedamaian hidup, melainkan rumah Allah. Justeru terdapat sebuah hadis Nabi s.a.w. menegaskan bahawa rumah Allah menjanjikan bukan sekadar ketenangan, malah beberapa nikmat lain sebagai dorongan berbuat kebaikan.
Hal ini telah disebut menerusi hadis Nabi s.a.w. yang diriwayatkan oleh Imam Muslim daripada Abu Hurairah maksudnya: "Tidak berhimpun satu kaum dalam rumah daripada rumah-rumah Allah (masjid/surau), membaca kitab Allah (al-Quran) dan berdiskusi mengenainya sesama mereka, melainkan diturunkan ke atas mereka ketenangan, mereka diselubungi dengan rahmat Allah, dikelilingi dengan para Malaikat (menulis segala kebaikan mereka) dan Allah akan sentiasa mengingati mereka (kerana mereka juga mengingati-Nya)."
Segala janji yang ditaburkan oleh baginda Rasulullah dalam hadis di atas, bukanlah satu perkara retorik seperti janji-janji dalam pilihan raya, ia janji yang akan ditunaikan sendiri oleh Allah SWT, iaitu agar umat Islam menjadi umat terbaik dengan mengecapi ketenangan, kedamaian hidup, rahmat Allah serta yang paling penting mereka diingati oleh Allah selaku Pencipta manusia.
Janji-janji tersebut diberikan apabila ada di kalangan insan Muslim yang memiliki ciri-ciri kebaikan seperti membaca dan mendiskusikan al-Quran, dalam erti kata mereka bersedia untuk mengkaji isi-isi kandungannya untuk dijadikan bahan rujukan, pegangan, kefahaman menuju jalan sempurna.
Justeru, Allah SWT menegaskan bahawa golongan Muslim yang sanggup memakmurkannya rumah-Nya adalah terdiri daripada mereka yang benar-benar memiliki kualiti iman yang sempurna.
Hal ini ditegaskannya menerusi ayat 18 surah at-Taubah maksudnya: "Hanyasanya yang layak memakmurkan (menghidupkan) masjid-masjid Allah itu ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat serta mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat dan tidak takut melainkan kepada Allah, (dengan adanya sifat-sifat Yang tersebut) maka adalah diharapkan mereka menjadi dari golongan yang mendapat petunjuk."
Ayat di atas jelas menunjukkan bahawa keimanan yang kental, kepercayaan teguh berpegang kepada hari akhirat, melaksanakan tugas utama dengan bersolat, mengeluarkan zakat serta takut hanya kepada Allah dan tidak yang lain selain-Nya, adalah senjata utama bagi mengekalkan seseorang yang beriman itu menjadi pemakmur rumah Allah yang setia.